Sep 18, 2009

Adios

Aku meminta tumpangan pulang kepada temanku malam itu. Dia menyanggupi.

Entah kenapa dia malah membawaku ke rumahmu malam itu. Dia meninggalkanku begitu saja berdiri kaku di depan rumahmu. Aku belum pernah ke rumahmu sebelumnya. Rumahmu (mungkin lebih tepatnyta rumah orang tuamu) kecil dan hangat. Bersih dan nyaman. Jantungku berdegup kencang melihat rumahmu.

Kemudian seseorang mempersilahkanku masuk. Ternyata itu adalah kakakku. Entah bagaimana dia bisa mengenalmu dan berada di rumahmu. Dan ibuku juga berada di sana. Apa maksud semua ini?

Aku lelah dan pusing. Aku pun berjalan ke kamarmu. Ternyata kau menatanya dengan rapi. Terdapat boneka favoritku di sana, hasil hadiah dari teman-temanku. Entah itu boneka milikku atau milikmu yang sama persis. Aku merasa nyaman berada di dalam sana. Aku tertidur sejenak di kasurmu. Lelah. Tiba-tiba kau sudah berada di dalam kamarmu, duduk di sebuah kursi, memandangiku, dan tersenyum. Senyum itu, lama tak kulihat, indah sekali. Kau memandangiku seakan melihat seorang anak kecil yang kelelahan setelah pulang dari sekolahnya. Tiba-tiba ibuku masuk ke kamarmu dan mengatakan bahwa beliau lebih memilih jika aku bersama dengan dirinya, bukan dirimu. Kenapa beliau mengatakannya di depanmu? Untuk sesaat kau kehilangan senyummu. Beliau pun keluar dari kamarmu. Meninggalkanku yang masih marah karena perkataannya. Kau masih memandangiku. Antara kalut dan maklum. Ya, aku memang telah lama mengenal dirinya, jauh sebelum aku mengenalmu. Dia baik. Ibuku suka dengan kehadirannya di dalam hidupku. Aku masih terpaku memandangimu. Aku minta maaf. Kau tersenyum memaafkanku. Aku menangis. Menangis karena takut kehilanganmu. Dan yang kau lakukan adalah duduk di sampingku yang masih merebahkan diri di kasurmu dan mulai menyanyikan sebuah lagu untukku. Sebuah lagu dari Matchbox 20 berjudul If You're Gone. Entah kenapa kau memilih lagu itu. Suaramu mirip dengan Rob Thomas, vokalis band itu. Aku masih menangis di kasurmu. Kau pun meninggalkanku dari kamarmu setelah kau selesai menyanyikannya.

Aku melihatmu sedang menghubungi seseorang. Dari gerak-gerikmu, itu seseorang yang lebih kau pilih daripada aku untuk melangkah bersama dalam hidupmu. Sakit memang hati ini.

Aku bertemu orang tuamu. Mereka baik. Ini kali pertama aku berjumpa dengan mereka dan saudara laki-lakimu. Aku tak tahu kau punya saudara laki-laki. Mereka mirip sekali denganmu.

Well, adios.

8 comments:

Ebik dei said...

Ndolo

fanny said...

wah, sedih banget. pake adios segala.

aneg the reborn said...

LOL

Make it real...

Pipit said...

@ aneg: ssstt... jangan bilang2 ya, LOL
*serius nih*

kabol said...

wah kok sedih selamat lebaran aja mohon maaf lahir dan batin

senoaji said...

Embuh lah! sing penting endi sing apik kuwi sing di playu!

Itik Bali said...

Jangan sedih Pit
Badai Pasti Berlalu
selamat hari raya Idul Fitri ya
mohon maaf lahir dan bathin

the ladie's diary said...

wew ..
ceritanya sedihh , haruu ..
keren bngt ..
=)
sukses terus yaa , ka pipit ..

slam knal .