Jan 17, 2011

Falling Star

Seorang anak kecil bernama Loli selalu memandangi langit malam. Dia selalu memandangi bintang yang sama setiap malam. Duduk dalam diam di halaman belakang rumahnya, kadang berdiri dan berbicara sendiri, sebenarnya dia berbicara terhadap bintang itu dan berharap bintang itu mendengar apa yang dibicarakannya. Tak bosan-bosan ia memandangi cahaya bintang itu tiap malam. Bintang itu bukanlah bintang yang paling terang sinarnya di antara bintang-bintang yang lain, tapi ia mempunyai cahaya yang paling indah di antara yang lain. Cahaya warna ungu. Ungu merupakan warna favorit Loli. Tak heran bila Loli sangat menyukai bintang itu.
“Nak, ayo masuk. Sudah malam,” kata ayah Loli.
“Sebentar lagi, Yah,” jawab Loli.
“Sedang memperhatikan bintang itu lagi, ya?” tanya ayah Loli sambil ikut memandang ke arah langit malam.
”Iya, Yah,” jawab Loli tanpa mengalihkan pandangannya terhadap bintang tersebut.
Sang Ayah pun tersenyum dan mengelus lembut kepala Loli. “Jangan buat dirimu kedinginan,” kata si Ayah sambil menggandeng tangan mungil Loli dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Loli menurut.
Sebelum tidur, Loli berharap jika bintang itu jatuh, ia akan mencarinya dan memasukkannya ke dalam botol bening yang ia punya. Akan ia simpan dan jaga baik-baik bintang itu.

***

Suatu malam, harapan Loli terkabul. Saat ia memandangi bintang itu untuk yang kesekiankalinya, tiba-tiba bintang itu berkedip-kedip sebentar dan jatuh. Jatuhnya bintang itu seperti pensil yang sedang membuat garis panjang di atas langit malam.
Loli pun segera berlari dan mengikuti arah bintang tersebut. Ia tak ingin kehilangan jejak sang bintang. Momen yang telah ditunggu-tunggunya selama ini tak boleh rusak. Terengah-engah, ia mendapati si bintang jatuh tak jauh dari tempat ia biasa mengamati. Bintang itu ternyata tak jauh lebih besar ukurannya dengan telapak tangannya. Anehnya, bintang itu tak lagi bersinar. Bahkan berkedip pun tidak. Pastilah bintang ini kelelahan karena harus bersinar sekuat mungkin tiap malam agar cahayanya dapat terlihat dengan jelas di bawah sini, pikir Loli. Atau mungkin tempat ini terlalu terang untuknya agar dapat bercahaya lagi? Ya, pastilah itu sebabnya. Bintang itu biasa bersinar di langit yang hitam, kini ia berada di dunia yang dipenuhi dengan warna-warni cahaya, pastilah sinar bintang itu tak sekuat sewaktu berada di langit hitam. Bintang ini tak boleh kehilangan sinarnya, pikir Loli.
Loli pun segera berlari pulang dan masuk ke kamarnya. Menutup pintu kamarnya, menutup jendela, memasukkan bintang itu ke dalam botol kaca bening, dan membiarkan kamarnya gelap gulita. Siapa tau dengan keadaan gelap seperti ini, bintang itu akan bersinar kembali, pikir Loli.
Tak ada yang terjadi. Loli terus menunggu dan menunggu. Bintang itu bahkan tak berkedip.
Loli pun keluar dari kamarnya dan menghampiri sang Ayah. “Ayah, bintang ini tak mau bersinar lagi,” kata Loli dengan muka dan suara yang sedih menunjukkan bintang itu kepada ayahnya. “Apakah semua bintang yang jatuh akan kehilangan sinarnya?”
“Tidak, Sayang,” jawab sang Ayah. ”Bintang tidak akan bersinar bila berada di dekatmu karena sinarnya bukan untukmu.”
”Tapi kenapa dia bersinar saat di langit?” tanya Loli.
”Dia bersinar untuk orang lain. Kebetulan saja kau melihat sinarnya karena dia berada di tempat yang mudah terlihat oleh orang lain,” jawab ayahnya dengan suara bijak.
”Kenapa dia jatuh di sini jika dia tidak bersinar untukku?”
”Entahlah, Sayang. Mungkin dia tersesat.”
”Ah, sayang sekali, padahal sinarnya begitu bagus,” kata Loli lirih sambil memandangi bintang yang telah ia simpan di dalam botol. ”Akankah ia bersinar lagi, Yah?”
”Iya, jika ia menemukan orang yang tepat.”
”Boleh kusimpan di kamar, Yah?”
”Jangan, Sayang,” jawab ayahnya lembut sambil mengelus kepala Loli. ”Bintang itu sedang mencari pemilik sinarnya. Pemiliknya pastilah juga sedang kebingungan. Taruhlah kembali ke tempat ia jatuh, Nak.”
”Bagaimana cara mereka bisa bertemu? Bintang ini tak bersinar, bagaimana pemiliknya menemukannya?”
”Mereka saling bicara, Nak. Kau tak bisa mendengarnya.”
Loli tampak kecewa dan kesal karena bintang sebagus itu harus dilepasnya.
”Bolehkah ia tetap berada di dalam botol ini, Yah? Agar ia aman,” kata Loli.
”Boleh, Sayang. Sekarang kembalikan ke tempat dia jatuh. Ia akan berterima kasih kepadamu.”
Loli pun segera berlari ke tempat bintang itu terjatuh dan meletakkannya kembali di sana. Ia menunggui sebentar bintang itu. Mengamatinya. Bintang itu mengeluarkan cahaya lemah, berkedip-kedip sebentar. Loli terkejut. Ia melihat sekelilingnya, tak ada siapa pun. Bintang itu berterima kasih kepadanya. Loli tersenyum dan mengelus-elus permukaan botol itu dengan lembut sambil berkata, ”Baik-baik ya kamu di sini. Aku akan kembali setiap malam untuk menjengukmu, sampai ada yang menemukanmu.”
Loli kembali berjalan pulang dengan langkah ringan, menatap ke langit. Belum menemukan bintang yang sinarnya lebih bagus lagi. Kemudian Loli mulai bernyanyi.

“’Coz all of the stars are fading away
Just try not to worry
You’ll see them someday”
(Oasis – Stop Crying Your Heart Out)

6 comments:

senoaji said...

(jika memang perlu) seting tempat dan waktu belum terasa. Karena ini bercerita tentang cerita romance imajiner, seharusnya (menurutku) pembaca perlu kejelasan waktu walopun absurb.. seperti "pagi sudah, Lolipun terbangun dari tidurnya dan saatnya dia harus ke sekolah" <--- contoh aja sebagai ending.

Nah si Ayah ternyata bukan jembatan antara sisi imajiner Loli dengan realitas, tapi si ayah masuk di dalamnya. Hal ini yang bikin canggung. Apakah ini imajiner bersama-sama atau mereka memang hidup didunia fantasi atau sebenarnya si ayah berperan sebagai penengah?

"Momen yang telah ditunggu-tunggunya selama ini tak boleh rusak" momen yang mana?

"memasukkan bintang itu ke dalam botol kaca bening" padahal "Bintang itu ternyata tak jauh lebih besar ukurannya dengan telapak tangannya" walopun imajiner tapi tetap saja logika harus main. mungkin dengan "menyimpan bintnag itu di almari yang tertutup rapat hangat" atau "mendadak bintang itu pecah menjadi serpihan2 kecil"

Nah yang paling aku suka dari cerpenmu adalah kekuatan dialognya... mempesona, nendang dan mampu membangun frame buat pembacanya. Kemanjaan Loli pengharapan dan tentu saja building charaternya bagus banget mendekati sempurna.

Dan ternyata kamu dahsyattt... habis, jujur aku sebagai pembaca ikut masuk dalam ruang imajiner si loli, apalagi pas yang ini

Mengamatinya. Bintang itu mengeluarkan cahaya lemah, berkedip-kedip sebentar. Loli terkejut. Ia melihat sekelilingnya, tak ada siapa pun. Bintang itu berterima kasih kepadanya. Loli tersenyum dan mengelus-elus permukaan botol itu dengan lembut sambil berkata, ”Baik-baik ya kamu di sini. Aku akan kembali setiap malam untuk menjengukmu, sampai ada yang menemukanmu.” <<-----ANJJRRITTTT!!! KERENN POLLLL!!!

koreksi jika salah pendapatku ya.. tetap menulis lagi oke

yuin said...

huaaaa miris :(

Pipit said...

@ mas senoaji: matur sembah nuwun atas komennya.. jujur, aku deg2an nunggu komenmu.. hehe..

iya, emang saya kurang bisa dalam menggunakan deskripsi waktu dan tempat.. itu kelemahan saya.. tapi di cerita ini, settingnya selalu malah hari, karena membahas tentang bintang.. kalau setting tempat, memang kacau.. hehe..

momen yg ditunggu2 adalah momen jatuhnya bintang favorit Loli.. =)

dan penggunaan kata 'botol' adalah sebenarnya saya pengen pake kata 'toples'.. karena toples mempunyai ukuran lubang lebih besar.. tapi 'toples' terkesan kurang romantis dan saya bingung cari kata penggantinya, dan hanya terpikir 'botol'

skali lagi..
makasih.. =)

indrahuazu said...

bagus pit, aku suka orang yang suka nulis.

sayangnya, theme blogmu agak mengganggu mata...

hehe

fizer0 said...

nice story, saya paling suka kata2 yg ini ”Dia bersinar untuk orang lain. Kebetulan saja kau melihat sinarnya karena dia berada di tempat yang mudah terlihat oleh orang lain,” kata yg sangat "cerdas" menurut saya,,,

cmut'sfingersdance said...

tulisanmu nendang...