Apr 7, 2011

Berbagi Irama

Gadis itu merasa bahwa dia mendengar sebuah alunan musik. Secara otomatis dia memisahkan suara-suara bising lain di jalan raya tersebut agar dapat mendengar musik itu dengan jelas. Suara musik itu semakin lama semakin terdengar jelas dan membimbing gadis itu ke sumbernya. Gadis itu tiba di sebuah bangunan kecil, membuka pintunya, dan mengintip ke dalam.

“Ah, gelap sekali,” gumam gadis itu. Tapi suara musik yang terdengar jelas di dalam bangunan itu membuatnya melangkah masuk ke dalam. Dibiarkannya pintu terbuka sebentar utuk membiarkan sinar dari luar masuk supaya dia bisa mencari tombol untuk menghidupkan lampu. Dia menemukan saklar berbentuk bulat di ruangan tersebut, kemudian menekannya dan membuat lampu menyala. Pintu pun ditutup kembali.


Gadis itu melihat sekeliling ruangan. Tidak ada siapa-siapa. Entah siapa yang memainkan musik itu. Kemudian dia mulai membuat gerakan-gerakan lentur dari tubuhnya dan menyesuaikan dengan irama musik itu. Nuansa melankolis dari musik dipadukan dengan tarian lembut darinya, betapa indahnya. Dia terus menari dan menari. Dia begitu menikmatinya, menjadi dirinya sendiri, bebas, dan begitu bahagia. Kemudian irama musik semakin lama semakin cepat. Cepat dan cepat. Memberontak. Gadis itu menyesuaikan gerakannya dengan irama musik, cepat, dan tangkas. Berputar, semakin berputar, semakin cepat. Sampai musik itu memuncak dan… BLUGH!

Gadis itu terjatuh. Tak ada kerikil. Tak ada batu. Tak ada tali yang membuatnya tersandung. Gadis itu terpeleset oleh kakinya sendiri. Nyeri di kaki dirasakannya. Pusing karena berputar terlalu cepat. Musik pun terdengar melambatkan iramanya ke kecepatan semula, lembut dan melankolis.

Sekali lagi gadis itu melihat sekeliling. Tak ada siapa pun. Hanya dia seorang. Sambil memijit kakinya dan mengatur napas, dia berpikir. Untuk apa dia melakukan semua ini? Menari tanpa seorang partner? Apa yang dia harapkan? Sejenak tadi dia memang merasa bebas. Tapi alangkah indahnya jika seseorang dapat merasakan kebebasan bersamanya juga. Berbagi peran, gerakan, dan irama. Mengimbangi irama yang memuncak hanya sendirian saja itu cukup membuatnya kewalahan.Setelah dirasa tidak terlalu sakit dan pusing, gadis itu berjalan mendekati pintu, membukanya, dan berjalan keluar meninggalkan ruangan. Dia membiarkan pintu itu tidak tertutup dengan lampu tetap menyala. Suatu hari kelak, ketika dia menemukan seseorang yang mendengarkan musik yang sama, dia akan kembali ke sana lagi. Kembali dan menari bersama orang itu. Suatu hari kelak.


Gambar diambil dari sini.

4 comments:

senoaji said...

kalo dilihat dari wujud abstrak si gadis tidak sendiri, dia melebur dengan suasana dan kadang suasana bisa jadi teman sejati, kekasih sejati. Tinggal bagaimana berdialog dengan kekosongan untuk menjadikannya isi.

Tapi jika yg dibutuhkan si gadis perwujudan daging mentah bernyawa berlogika dan punya asa. yap si gadis memang harus mencari.

Tabik
senoaji :D

fizer0 said...

berbagi kebahagiaan dengan orang lain itu dapat membuat kita lebih bahagia..

Itik Bali said...

Sayang dia sekarang hanya bisa mnikmati sendiri aja..
suatu saat pasti ada yang mau menemaninya bergerak bebas

Triunt said...

penari itu tidak sendirian kok,
saya ngintip dari balik balkon :D