May 22, 2011

Titik Awal dan Akhir

Memandang luka baru yang menganga di telapak tangannya, gadis itu merintih kesakitan. Angin malam membuatnya kedinginan dan membuat luka itu terasa semakin perih. Dia pun mengutuk apa saja yang terlintas di pikirannya. Mengutuk orang yang telah menggoreskan luka itu di tangannya. Mengutuk angin malam yang membuat keadaan semakin buruk. Mengutuk taman di mana ia berada sekarang karena pepohonan yang rimbun akan membuat malam semakin dingin dan tempat yang terbuka akan membuat angin semakin ganas. Mengutuk betapa sepinya malam itu, tak ada seorang pun selain dirinya yang berada di taman itu. Mengutuk dirinya sendiri karena tidak segera mencari tempat baru yang lebih nyaman.

Karena tidak melihat pertanda bahwa keadaan akan membaik, gadis itu bangkit dan mulai berjalan mencari tempat baru. Dia tidak berharap bertemu dengan manusia lain, dia hanya berharap menemukan tempat yang lebih hangat dan ramah. Tapi, dia juga tidak keberatan jika harus bertemu dengan seseorang atau beberapa. Hanya saja itu bukan tujuan utamanya.




Dia berjalan dengan menekan lukanya agar darah berhenti mengalir. Dia sering menonton film perang. Para prajurit akan menekankan tangannya di tempat yang terluka untuk menghentikan pendarahan sebelum petugas medis datang menolongnya. Gadis itu mulai memasuki belahan dunia di mana sinar matahari bersinar. Udara di tempat itu hangat sekali, belum terlalu panas untuk ukuran siang hari. Tempat itu berhasil membuatnya tidak menggigil kedinginan lagi. Dia mulai merasa nyaman di tempat baru itu dan mencari tempat duduk untuk beristirahat atau menetap bila memungkinkan. Setelah duduk dengan nyaman, dia memperhatikan pemandangan di sekitarnya. Ada beberapa orang yang hilir mudik di hadapannya. Mereka begitu tenang melakukan aktivitasnya. Cahaya matahari membuat tempat itu lebih berwarna dibandingkan dengan taman malam hari. Dia dapat melihat merah, biru, kuning, dan warna lain dengan lebih jelas dan tajam.

“Hai!” sapa seseorang yang sedang melintas di depannya. “Kau orang baru di sini?”
“Eh?” gadis itu sedikit terkejut ada orang yang menyapanya. “Ah, iya. Aku orang baru.” Dia tersenyum.
“Selamat datang kalau begitu.” Orang itu tersenyum balik dan duduk di sampingnya. Seorang lelaki yang ramah, berkulit cerah, dan tatapan mata yang teduh.
“Terima kasih,” kata gadis itu, sedikit menggeser posisi duduknya untuk memberi tempat kepada lelaki itu.
“Kau terluka,” kata lelaki itu sambil memandang tangan si gadis yang berdarah.
“Ah, luka ini. Sepertinya sudah mulai mengering meskipun belum sempurna.”
“Ijinkan aku untuk merawatnya.” Lelaki itu mengeluarkan kain putih yang masih bersih dari dalam saku celananya. Kain itu diikatkan ke tangan si gadis yang terluka. Tidak terlalu erat, tapi cukup untuk menghentikan darah yang masih mengalir. Gadis itu merasakan kelembutan yang luar biasa pada kain tersebut.
“Kau mengingatkanku pada petugas medis perang di film-film yang sering kutonton.”
Lelaki itu hanya tersenyum mendengar ucapan si gadis. Gadis itu merasa lega karena lelaki itu tidak menanyainya bagaimana dia mendapatkan luka itu.
“Kau berasal dari mana?” tanya lelaki itu.
“Berasal dari belahan dunia di mana bulan dan bintang yang bersinar.”
“Ceritakan tentang tempat itu.”
“Di sana dingin. Tapi aku pernah merasakan kehangatan di sana. Tidak terlalu buruk sebenarnya keadaan di sana. Kau mampu membuat gambar di langit dengan menghubungkan satu titik bintang dengan bintang lainnya. Tidak terlalu ramai di sana, hanya di beberapa tempat saja yang penghuninya beraktivitas. Tempat terakhir yang kutempati di sana merupakan taman yang tenang dan dingin. Tapi, saat itu perasaanku sedang kacau. Jadi, kutinggalkan tempat itu dan di sinilah aku sekarang.”
“Kau akan kembali ke sana lagi?”
Gadis itu menggeleng.

Lelaki itu memandang tangan gadis tersebut yang terbalut kain putihnya. “Sepertinya lukamu sudah mengering.”
“Ah, iya. Terima kasih.”
“Baiklah, aku pergi dulu kalau begitu.” Lelaki itu tampak tergesa-gesa. Ingin sekali gadis itu menahannya. Tapi, sepertinya memang ada keadaan yang lebih mendesak untuk diurus oleh lelaki itu. Mungkin orang itu memang seorang petugas medis atau semacamnya. Memastikan pasiennya baik-baik saja hingga lukanya benar-benar sembuh.
“Berhati-hatilah, jangan ceroboh,” pesan lelaki itu dengan senyum, kemudian bangkit dan berjalan menjauh.
Gadis itu tersenyum dan melambaikan tangannya. Orang itu tidak melihat lambaiannya karena telah berjalan memunggunginya.

Gadis itu tidak keberatan jika disuruh menetap di tempat itu dengan sinar hangat matahari. Tapi setelah berpikir panjang, dia akan lebih senang jika orang tadi menemaninya. Tempat yang sempurna tidak akan terasa sempurna bila tidak bersama orang yang sempurna juga. Akhirnya dia memutuskan untuk mencari tempat lain.

Gadis itu mencari tempat duduk agar dia bisa beristirahat sebentar dan memijit kakinya yang kelelahan. Dunia dengan matahari yang bersinar ternyata cukup luas dan membuat otot-otot di kakinya bekerja sedikit lebih keras. Tiba-tiba angin dingin bertiup di permukaan kulitnya. Gadis itu merasa tidak asing dengan situasi seperti ini. Dia mendongak. Langit hitam, bulan, dan bintang adalah hal yang ditangkap oleh matanya. Bulan itu mengeluarkan sinar emas yang sempurna untuk malam hari. Sinar terang dan hangatnya matahari membuatnya lupa sejenak dengan sinar emas bulan dan dinginnya malam. Dan dia pun tersadar bahwa dia kembali ke titik awal tempat dia berasal. Yang dia lakukan selama ini hanyalah berjalan memutar. Putaran yang cukup jauh.

Perjalanan yang sia-siakah? Tidak. Setidaknya dia pernah merasakan siang hari. Setidaknya lukanya telah disembuhkan. Setidaknya dia telah bertemu Tuan Petugas Medis. Setidaknya dia mendapat nasehat untuk lebih berhati-hati dan tidak ceroboh. Dia memandang kain putih yang masih membalut tangannya. Dia melepasnya. Luka itu memang telah sembuh, tidak terasa perih, maupun mengeluarkan darah. Tapi, bekas luka itu akan sulit hilang.

Gambar di ambil di sini.

3 comments:

fizer0 said...

kembali ke titik yg sama dengan keadaan yg berbeda...

ATMO said...

ceritanya, ada orang yang terluka, berjumpa petugas medis yang menolongnya.
Bila ditulis seorang cerpenis, jadinya bagus ya hehehe..

salam kenal
ATMO

xamthone plus said...

hmm.. titik awal dan titk akhir...