Bengawan

komunitas blogger bengawan

2011-08-02

Madre

Saya ingin me-review buku baru Dewi “Dee” Lestari. Judulnya adalah “Madre”. Madre merupakan buku ketujuhnya. Madre berisi 13 kumpulan cerpen dan puisi karya Dee.


Sebenarnya, sebelumnya saya bukan penggemar Dee karena ketika saya membaca Supernova, salah satu novel fiksi karangan Dee, bahasanya terlalu berat dan sulit saya pahami. Menurut saya. Tapi, ketika novel Perahu Kertas terbit, saya langsung menjadi penggemarnya. Madre merupakan buku yang terbit setelah Perahu Kertas.

Yang jelas, Dee pandai bermain kata di karya-karyanya dalam buku Madre ini. Simpel, tapi romantis. Romantis, tapi tidak memuakkan. Renyah seperti biskuit. Kaya akan rasa seperti ketika kau makan roti dengan kopi berkrim dan penutup buah.

Tapi, jujur, saya lebih menikmati cerpen-cerpennya di buku ini daripada puisi-puisinya. Banyak makna tersembunyi di dalam puisi-puisinya yang sulit saya mengerti. Yang jelas, cerpen-cerpennya lebih berbahasa lugas dan ringan.

“Madre” berasal dari Bahasa Italia berarti “ibu”. Cerpen berjudul “Madre” memang menjadi karya utama Dee di dalam buku ini, karya yang menjadi “ibu” di dalam buku ini. Bercerita tentang seorang pemuda yang tiba-tiba mendapatkan warisan adonan roti dari orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Adonan roti yang selalu dianggap sebagai makhluk hidup oleh orang-orang di sekitarnya. Keganjilan yang justru menumbuhkan kegairahan baru bagi diri pemuda tersebut. Bagi para penggemar roti, hati-hati ya baca Madre saat bulan puasa karena akan terdapat banyak macam roti yang akan diperbincangkan di dalam cerpen yang satu ini. Hihi…

Selain Madre, karya lain di buku Madre ini yang menjadi favorit saya adalah Ingatan Tentang Kalian (puisi yang bercerita tentang persahabatan), Have You Ever? (cerpen yang berkisah mengenai petualangan cinta), Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan (cerpen yang memaparkan makna cinta dan Tuhan bagi seseorang), 33 (puisi yang mungkin adalah hadiah ulang tahun baggi seseorang), dan Menunggu Layang-Layang (lagi-lagi cerpen mengenai petualangan cinta).

Masih banyak karya Dee di dalam buku Madre ini yang tidak saya sebutkan, tapi patut dinikmati. Entah berapa banyak jempol yang akan saya acungkan kepada Dee untuk ide-idenya dalam membuat cerita dan permainan bahasa, logika, serta sastra yang ia gunakan. Baiklah, akan saya gunakan dua jempol tangan saya untuk memberi penghargaan karena jempol kaki terasa tidak sopan dan bau. Hihi…

8 comments:

fai said...

ah thanks reviewnya, gw juga salah satu penikmat buku karya dee, perahu kertas dah gw baca berkali kali tapi teutep gak ngebosenin, filosofi kopinya juga bagus. supernova gw malah belum baca sama sekali. may be one day, ini madre kudu dibeli sepertinya

Sang Cerpenis bercerita said...

sudah beli tapi belum sempet baca novel ini.

ratihkusuma said...

aku suka banget ama tulisan-tulisannya Dee.. Djenar juga suka banget.cuma ya gitu, kadang masih suka gak ngerti ama kiasan-kiasannya. apalagi di bukunya Djenar yang 1 perempuan 14 laki-laki :)

mursid said...

aku koq blas ra seneng karo novel ya, Pit..hehehehe..

:D

Sindhu said...

Hmm..belum pernah baca karya Dee satupun..
:D
Tapi, kalo dibandingin ma Ernest Hemingway, tulisan cerpenis Indonesia lebih mudah dipahami. hehehe.

cafe said...

terima kasih reviewnya...
Kami juga punya beberapa koleksi novel karya Dewi Dee Lestari dan novelis lainnya. jika ada yang berminat, silakan kunjungi situs : http://kafebuku.com/madre/
terima kasih.

Anonymous said...

di dalam buku itu kata "MADRE" diambil dari bahasa Spanyol..

was-was said...

dee salah satu penulis paling favorit,.. pemilihan kata-katanya mazing banget ^_^