Oct 17, 2011

Hujan Cahaya

Apakah kau ingat ketika kau mengajakku keluar malam itu? Kau bilang akan ada semacam hujan meteor. Kau menggenggam tanganku, kau berlari. Aku kerepotan mengikutimu. Langkah kakimu lebar-lebar sekali. Kursa kau lupa bahwa kakiku itu pendek. Asal kau tahu saja, aku harus berlari lebih cepat dua kali kecepatan normalku agar tidak kau seret. Dan itu pun masih tertinggal sepuluh jengkal di belakangmu. 

Tiba-tiba kau menghentikan langkahmu. Aku menabrakmu. Syukurlah kau berhenti. Aku lelah sekali. Kita berada di sebuah taman dengan rumput hijau yang sangat terasa empuk di kaki, seperti karpet kualitas terbaik dan termahal yang pernah ada. Kau menunjuk langit malam itu. Banyak bintang di sana, jika itu yang kau maksud. Kau melepaskan genggamanmu, menatapku, dan mencium keningku.

“Tunggu di sini, ya,” katamu sambil terenyum.
 “Mau ke mana kau?” tanyaku penasaran.

Tiba-tiba kau melompat. Aku pikir itu sebuah lompatan yang tinggi. Tidak. Bukan melompat. Kau terbang. Kau tidak pernah bilang bahwa kau bisa terbang. Apa lagi yang tidak kuketahui tentang dirimu? Pandanganku mengikuti ke arah ke mana kau terbang. Aneh, semakin kau berada di ketinggian, semakin bersinar dirimu. Apakah kau bintang? Kau mempunyai ukuran paling besar di antara bintang-bintang yang lain. Kau pun yang paling bersinar terang. Bintang-bintang yang lain mendekat ke arahmu seolah-olah kau adalah magnet. Mereka menyatu dengan dirimu. Sinarmu makin terang.

Tiba-tiba kau memecahkan dirimu menjadi ribuan serpihan cahaya di angkasa. Kau tersebar di mana-mana. Hujan bintang? Hujan meteor? Hujan cahaya? Entahlah. Kau menghujani bumi dengan cahayamu. Aku berbaring di atas rumput dengan tetap memandang ke arah langit. Menikmati hujanmu.


Aku terbangun keesokan harinya. Masih berada di tempat yang sama, taman dengan rumput seperti permadani mahal. Aku tertidur semalam. Tidurku nyenyak sekali. Aku tidak menemukanmu di sampingku. Ah, benar juga, kau kan menghancurkan dirimu sendiri di langit semalam, hanya untuk membuat hujan cahaya untukku. Hujanmu sangat indah malam itu. Tapi, sayang sekali, aku tidak menemukan satu pun serpihan dari dirimu untuk kusimpan


Gambar diambil di sini.

No comments: