Feb 22, 2012

Kursi Kosong

Tulisan kali ini bukan tentang teknik kursi kosong yang digunakan di psikologi di mana seorang klien duduk menghadap sebuah kursi kosong untuk menyatakan perasaannya.


Tapi mengenai seorang wanita yang selalu menyediakan tempat kosong untuk ditempati oleh pujaannya.

Wanita itu ingat ketika pujaannya menjajikan sebuah hal. Hal yang kecil. Mungkin bagi orang lain, hal itu sangat sepele. Pujaannya menjanjikannya untuk menonton film “P.S. I Love You” hanya berdua pada saat premier. Wanita itu senang sekali. Itu berarti hal yang selama ini dilakukannya tidak akan sia-sia. Tempat kosong yang selama ini disediakannya akan terisi.
Namun, waktu mengubah keadaan, keadaan mengubah rencana. Pujaannya terjatuh sakit, hanya dapat berbaring lemah.
“Ah, cepatlah sembuh. Ingatlah janjimu padaku,” kata wanita itu. Pujaannya hanya tersenyum dan menggenggam tangannya. Genggamannya lemah, begitu juga dengan kekuatannya menjaga janjinya. Dia pergi bersama janjinya, meninggalkan wanita yang menantinya.
Hari berganti hari, premier “P.S. I Love You” pun tiba. Wanita itu teringat janji pujaannya. Wanita itu memutuskan untuk tetap pergi ke bioskop dan membeli tiket. Dia membeli dua buah tiket yang hanya satu buah tiket saja yang ditunjukkannya kepada penjaga pintu masuk studio. Kursi di sampingnya kosong. Dia mendedikasikan kursi kosong itu untuk pujaannya.


Wanita itu bukan tipe orang yang dapat merasakan kehadiran arwah di sekitarnya. Dia ingin sekali mengetahui apakah pujaannya hadir pada hari itu dan duduk di kursi kosong yang disediakannya. Dia ingin sekali menjadi orang dengan indera keenam.
Hingga film berakhir, wanita itu sadar akan satu hal. Pujaannya selama ini hanyalah akan menjadi kursi kosong baginya, bahkan di saat kehidupan pujaannya berakhir.

Gambar di ambil dari sini dan sini.

No comments: