Feb 8, 2012

Meja Nomor 7

Hai, namaku Julia. Kau punya nama pastinya, kan? Tidak, tidak. Itu awal yang buruk untuk berkenalan. Lagi pula aku sudah tahu namamu. Jimmy. Oke, mari kita coba dengan cara lain.

Hai! Sebenarnya aku telah memperhatikanmu selama ini. Kau selalu duduk di meja dekat dengan jendela dan memesan kopi tanpa krim beserta air putih. Kadang-kadang kau memesan sandwich isi daging sapi. Sepatu sport putih dan jins belel warna abu-abu selalu menjadi dandananmu. Terkadang kau memakai kemeja kotak-kotak, terkadang kau memakai kaos bergambar tokoh-tokoh kartun. Kau selalu datang sekitar 1,5 jam sebelum teman-temanmu datang. Duduk dengan tenang dan sibuk dengan laptopmu. 15 menit untuk memeriksa Facebook-mu, dan sisanya kau gunakan untuk blogging. Aku tahu itu karena aku pernah duduk menghadap punggungmu dan mengintip ke arah laptopmu. Aku suka isi blog-mu. Kau menulis puisi saat kau menikmati waktu sendirimu. Kau menulis mengenai teman-teman dan keluargamu saat kau menghargai waktu bersama orang lain. Kau menulis harapan dan mimpi-mimpimu saat kau merasa ingin mencapainya dan mempertahankannya. Saat teman-temanmu datang, kau akan mematikan laptopmu atau tetap membiarkannya hidup tanpa menyentuhnya dan kau mengobrol dengan mereka. Kau menghargai kehadiran teman-temanmu ternyata. Kau pintar dalam membagi waktu sendirimu dan bersama orang lain. Perkenalkan, aku Julia. Ah, tidak. Cara ini akan membuatku tampak seperti seorang penguntit. Aku yakin kau tidak mau tahu kalau aku tahu banyak tentangmu. Oke, mari cari cara lain yang lebih bagus.

Apakah aku harus lewat di depanmu dan berpura-pura menjatuhkan tasku beserta dengan isi-isinya supaya kau membantuku untuk memungutinya? Kemudian sebagai ucapan terima kasih, aku akan mentraktirmu segelas kopi tanpa krim lengkap dengan air putihnya. Dan kita berdua berkenalan dan ngobrol sebelum teman-temanmu datang. Tapi, cara itu setahuku hanya berhasil di drama-drama televisi. Dan kita berdua tidak hidup di dalamnya. Aku tahu kau benci drama-drama televisi. Terkadang aku juga membencinya.

Dengan cara apa lagi supaya aku bisa mengenalmu? Tak ada satu pun di antara teman-teman kita yang saling mengenal satu sama lain. Setidaknya aku bisa meminta bantuan mereka jika ada yang saling mengenal.

Jadi, di sinilah aku. Masih tetap memandangimu dari seberang tanpa berbuat apa-apa. Memandangimu yang selalu menempati meja nomor 7.

Gambar diambil di sini.

No comments: