Jun 15, 2012

Menolehlah

Seorang putri kerajaan sedang mengalami hal yang aneh belakangan ini. Dia hanya memandangi sebuah lukisan yang dia beli dari seorang kakek. Saat itu dia sedang berjalan-jalan, tentu saja dengan dikawal pengawal-pengawalnya, dan bertemu dengan kakek itu. Kakek itu menjual lukisannya dengan harga murah, tapi si Putri Kerajaan membelinya dengan harga yang tinggi. Para pengawal tentu saja keheranan. Si Kakek kegirangan dan bersyukur. Dengan segera Si Putri Kerajaan memasang lukisan itu di kamarnya. Sejak itulah dia tidak mengalihkan pandangannya dari lukisan itu sekali pun.

Lukisan itu bergambar sebuah jalan yang terbentang panjang dengan pohon-pohon di samping kanan dan kirinya. Seperti halnya lukisan yang memperhatikan perspektif, semakin jauh jalan yang digambar, semakin kecil tampak di lukisan. Hampir di titik yang paling jauh, terdapat sosok seorang laki-laki bertopi yang sedang berdiri. Si laki-laki bahkan digambarkan memunggungi penikmat lukisannya. Jadi, hanya terlihat punggung saja, tidak tampak wajahnya.

Sang Raja merasa khawatir setelah beratus-ratus hari Si Putri mengalami hal aneh tersebut. Sang Raja mengadakan sayembara bagi para pemuda untuk mengalihkan pandangan Si Putri dari lukisan tersebut, bahkan hanya untuk sekedar mengerling saja. Jika ada seseorang yang berhasil melakukannya, dia boleh memilikinya. Sang Raja sudah berusaha mencari si kakek penjual lukisan itu. Mengirim semua pasukan terbaiknya. Tapi, sia-sia saja usahanya. Kakek itu telah pergi entah ke mana.

Karena kesantunan dan kecantikan Si Putri, satu persatu pemuda mulai berdatangan dan memulai usahanya untuk mengalihkan perhatiannya. Ada yang bernyanyi, menari, bermain terompet, bermain drum, membaca puisi, bahkan melawak. Bahkan ada yang dengan kasarnya memegang wajah Si Putri dan mengarahkan kepalanya ke wajah si pemuda kasar itu. Tapi hanya ada tatapan kosong dan dingin yang ada di mata Si Putri. Sang Raja merasa geram melihat kelakuan si pemuda dan akhirnya menghukumnya dengan cara memenggal tangannya. Ada yang berdiri tepat di antara Si Putri dan lukisan, sehingga menghalang-halangi pandangan Si Putri. Tapi, Si Putri menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan si pemuda.

Kemudian datanglah seorang pemuda dengan tampilannya yang sederhana dan wajah tenang. Dia tidak membawa properti satu pun untuk membantunya mengalihkan pandangan Si Putri. Dia juga tampak tidak agresif untuk memaksa Si Putri mengalihkan pandangannya. Dia hanya berdiri bersebelahan dengan Si Putri, mengikuti Si Putri memandangi lukisan tersebut, tanpa suara, hanya berdiri tenang. Hanya itu yang dilakukannya selama beberapa hari. Ya, pemuda itu bertahan beberapa hari, membuat pemuda lain mengantri lebih lama.

Si Putri menoleh ke arah pemuda itu! Tatapannya masih kosong. Tapi, setidaknya dia menoleh bukan karena paksaan. Pemuda itu juga mengalihkan pandangannya ke Si Putri dan tersenyum lembut. Begitu pula Si Putri, dia tersenyum, tatapannya menghangat. Dia kembali ke realita.

2 comments:

Outbound di Malang said...

Kunci keberhasilan adalah menanamkan kebiasaan sepanjang hidup Anda untuk melakukan hal - hal yang Anda takuti.
tetap semangat tinggi untuk jalani hari ini ya gan ! ditunggu kunjungannya :D

Sang Cerpenis bercerita said...

bisa utk buat buku dongeng nih.