Jul 12, 2013

Rindu yang Tak Pernah Padam

Kau mengajakku untuk berkenalan dengan seseorang yang ingin sekali kau perkenalkan kepadaku. Ya, aku tahu betapa besar keinginanmu memperkenalkanku padanya.
"Nanti malam akan aku perkenalkan kalian berdua, ya," ajakmu siang itu. "Aku juga sudah lama tidak bertemu dengannya, aku merindukannya."
"Iya, baiklah," jawabku mengerti.

Sumber gambar dari sini.
Malam itu kau membawaku ke tempatnya. Kau tahu aku takut gelap, sehingga kau menggenggam tanganku erat. Meskipun aku tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas, aku tahu perubahan yang terjadi pada dirimu. Sendu.
Kau mengajakku duduk di depan nisannya, orang yang ingin sekali kau perkenalkan padaku. Kau dan aku berdoa dengan kusyuk untuknya. Setelah berdoa, percaya atau tidak, aku mencoba untuk mengobrol kepadanya. Berbicara tanpa suara. Dan tanpa suara pun kau menangis. Aku tahu kau sangat merindukannya. Aku tahu kau sangat ingin memilikinya kembali. Aku hanya mampu membelai rambutmu. Kata-kata pun tak akan bisa menghiburmu. Semua yang telah diambil-Nya memang tidak bisa kita minta untuk kembali. Kita semua tahu itu.
Untuk pertama kalinya aku melihatmu menangis. Kau selalu terlihat kuat di depanku. And my heart was breaking when I saw you cried.
Setelah kau memperkenalkanku padanya, tiba-tiba saja ada kembang api menghiasi langit malam itu. Ternyata orang-orang di sekitar pemukiman yang menyalakannya untuk menyambut bulan baru ini. Kau, aku, dia, dan orang tuamu menyaksikan kembang api malam itu dalam diam. Indah. Tapi diselimuti perasaan rindu yang tak akan hilang.

No comments: