Nov 10, 2016

Jurang

Ilustrasi ambil dari karya Gypsie Raleigh
“Sini, duduk sini di samping aku,” katanya sambil tersenyum dan menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.
Pada awalnya aku tidak melihat ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Aku menurut saja untuk duduk di sampingnya.
“Ada apa?” tanyaku.
“Aku ingin kamu menemaniku. Kamu satu-satunya orang yang ada di sini yang mungkin bisa menyelamatkanku,” katanya.
“Haa? Menyelamatkanmu dari apa?” tanyaku. Heran. Aku tidak melihat sesuatu yang berbahaya.
“Lihat ini,” dia menunjukkan jarinya ke arah kakinya. Barulah aku sadar ternyata dia duduk di sebuah papan yang terletak di tepian jurang. Aku melihat wajahnya, bekas air mata ternyata di bawah matanya. Jadi, dia memintaku duduk untuk menahan papannya agar tidak jatuh ke jurang itu. Dia ketakutan. Aku genggam tangannya. Aku bergeser sedikit ke arah yang lebih aman.
“Ikut aku,” kataku, “Sisi sebelah sana lebih aman.”
“Aku takut untuk bergerak,” rintihnya.
“Ayo, pelan-pelan saja. Ada aku yang menahan papan ini. Well, memang akan sedikit bergetar karena beratku tidaklah cukup untuk menahan papan ini agar stabil. Tapi percayalah, aku cukup kuat menahannya agar tidak jatuh.” Dia mulai mengikutiku sedikit demi sedikit untuk bergeser. Prosesnya memang lama karena dia ketakutan. Pada akhirnya kita berdua berada di tempat yang aman untuk bisa berdiri. Aku masih menggenggam tangannya, mengajaknya untuk berjalan terus, menjauhi jurang itu.

No comments: