Nov 25, 2016

The Breakfast Club (1985)

Boleh dibilang kalau saya ini suka nonton film. Saya tidak menyatakan diri sebagai ‘anak film’ lho ya. Karena kalau saya bilang saya ini ‘anak film,’ referensi film saya masih dibilang sedikit. Hahaha… Dan saya suka sedih karena selera film saya ini berbeda dengan teman-teman di sekitar saya. Atau mungkin karena mereka tidak hobi nonton film seperti saya, ya? Jadi, saya suka bingung kalau mau ngobrol tentang film atau sekedar minta rekomendasi film yang menarik buat ditonton di akhir pekan. Cuma bisa berbagi dengan pacar saya yang juga hobi nonton film.

Judul : The Breakfast Club
Sutradara : John Hughes
Pemain : Emilio Estevez
                Paul Gleason
                Anthony Michael Hall
                Judd Nelson
                Molly Ringwald
                Ally Sheedy
Oke, baiklah, ijinkan saya membahas salah satu film favorit saya, yaitu The Breakfast Club (1985). Bahkan tahun film ini lebih tua 4 tahun dari tahun kelahiran saya. Hahaha… Banyak yang bilang ini salah satu film remaja terbaik pada jamannya. Film ini bercerita tentang 5 orang remaja yang dihukum oleh sekolahan karena melanggar peraturan sekolah. Hukuman yang diberikan adalah mereka diminta datang ke sekolahan pada hari Sabtu (fyi, seharusnya mereka libur di hari Sabtu) dan dikumpulkan di perpustakaan. Wakil kepala sekolah tersebut meminta mereka menulis sebuah essay tentang “who you think you are” dan kemudian meninggalkan mereka di perpustakaan. Dikurung di perpustakaan pada hari libur dan diberi tugas menulis essay bukanlah perkara yang menyenangkan bagi mereka, apalagi dengan sifat dan latar belakang mereka yang berbeda. Mereka berdebat, saling menghina, berteriak, dan macam-macam lagi kelakuan yang menyebalkan khas anak SMA. Justru dengan pertengkaran itulah mereka mulai saling mengutarakan permasalahan masing-masing. Mereka menjelaskan alasan yang menyebabkan mereka melanggar peraturan sekolah.

Menurut saya, permasalahan yang dibahas di film ini tidak lekang oleh waktu. Mau itu dibawa ke tahun 80-an, 90-an, atau bahkan 2000-an, permasalahan mengenai hubungan anak (terutama remaja), orang tua, dan sekolahan merupakan permasalahan yang tidak ada habisnya. Orang tua lupa bagaimana rasanya menjadi anak, terutama ketika memasuki usia remaja. Dan anak pun belum tahu bagaimana rasanya menjadi orang tua. Begitu pula dengan guru, kadang mereka lupa tujuan utama menjadi guru itu bukanlah untuk mencari uang agar dapat membayar tagihan-tagihan rumah tangganya.

Kalau saya boleh memberikan bintang, saya kasih 4/5. Bintang 4 karena film ini ringan, lucu, menyentuh (ada beberapa scene yang membuat saya nangis ketika mereka curhat dan memang permasalahan ini ada di kalangan kita semua), dan tentu saja permasalahan di film ini tidak lekang oleh waktu. Best scene di sini, menurut saya, adalah ketika mereka mengendap-endap di koridor sekolah, ketika mereka curhat sambil lesehan di perpustakaan, dan tentu saja ketika mereka joget! Original soundtrack-nya bagus!


Kurang 1 bintang mungkin karena saya mulai menjadi penikmat film saat tahun 90-an akhir dan awal 2000-an, jadi berasa lihat akting mereka agak “mentah.”

Sungguh film ini sangat saya rekomendasikan untuk ditonton di akhir pekan.

No comments: