Mar 3, 2020

Lupa

Akulah penyanyi,
yang lupa tangga nada

Akulah penulis,
yang lupa bagaimana mencari inspirasi

Akulah manusia,
yang lupa cara bernapas

Akulah kegelapan,
yang lupa bagaimana rupa terang

Feb 28, 2020

Monster

Gadis itu tak lagi sama.

Ke mana perginya kata-kata yang indah dan penuh imajinasinya?

Yang ada sekarang adalah kebencian dan caci maki yang keluar dari mulutnya

Ke mana perginya pikirannya yang penuh mimpi dan tak berhenti berkhayal?

Yang ada sekarang adalah kekosongan yang tak ada habisnya

Akankah seseorang menyadari bahwa bayangannya kini berubah menjadi monster?

Hitam dan seram

Akankah seseorang datang dan berkata,

"Aku rindu kamu yang dulu."

Feb 25, 2020

Terlahir Kembali

Riana, seorang karyawati sebuah perusahaan retail fashion terkemuka di Indonesia, melihat hasil cetakan poster yang telah diselesaikan "tim hura-hura" di kantornya. Begitulah dia menyebut tim kreatifnya, "tim hura-hura." Poster tersebut berisikan acara pesta anniversary kantornya yang ke-29 tahun. Di dalam poster tersebut tertera nama band bintang tamu acara tersebut. 
Ah, mereka, batin Riana. Ada beberapa kandidat bintang tamu yang akan hadir dalam acara tersebut, salah satunya band ini. Ternyata "tim hura-hura" memilih band ini sebagai bintang tamunya. Band pop punk yang bernama Glory ini memang baru saja merilis album baru dan kebetulan memang beken di antara anak muda jaman sekarang.
Apakah mereka tahu bahwa aku bekerja di sini? Apa yang akan mereka katakan, terutama si vokalisnya, jika melihat aku sekarang? tanya Riana dalam hati, sambil tersenyum tipis karena teringat masa lalunya.

Malam anniversary pun tiba. Riana sudah datang dari tadi, namun dia sengaja tidak menampakkan dirinya di sekitar band Glory semenjak mereka datang. Ketika band tersebut telah menyanyikan 2 lagu dari album terbarunya, Riana maju menuju barisan terdepan di antara penonton lainnya. 
"Wah, kalian semangat sekali, ya, malam ini. Senang melihatnya!" teriak sang vokalis. Nampaknya dia belum menyadari kehadiran Riana di barisan paling depan. Atau mungkin dia sudah lupa dengannya. Entahlah. "Kalian mau request lagu apa setelah ini?"
"Kiss Me, Jonathan!" teriak Riana.
Mata Jonathan, sang vokalis pun tertuju ke Riana. Dia diam sejenak. Tak percaya apa yang dilihatnya. Anggota band yang lain pun menunjukkan ekspresi yang sama.
"Riana?" kata tersebutlah yang dapat terucap dari mulut Jonathan diikuti senyum senang dan masih tidak percaya dari anggota band yang lain.
Riana pun tersenyum.
Jonathan mengulurkan tanggannya untuk membantu Riana naik ke atas panggung. Teman-teman Riana yang lain bersorak senang dan tak percaya bagaimana Jonathan bisa mengenal Riana. Riana naik ke panggung dan disambut pelukan hangat anggota band tersebut.
"You work here?" tanya Jonathan dengan mata terbelalak. Masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Yes," jawab Riana geli karena melihat reaksi teman lamanya seperti itu.
"You knew that we're gonna be here tonight?"
"Yes."
"Why you didn't text me? Or at least, call me?" tanya Jonathan tidak peduli bahwa dia masih di atas panggung dan percakapannya bisa ditonton dan didengar oleh semua penonton yang ada di situ. Dia tidak marah, tapi merasa lucu.
"Sorry, my phone was broken. I lost all the data and didn't have any back ups," Riana berbohong.
"Since ten years ago and you didn't even try to send me any emails?" Jonathan mencium kebohongan Riana. Dia sebenarnya paham jika Riana memutuskan untuk berhenti dari dunianya yang dulu. Tapi ini Jonathan, orang yang selalu menganggap Riana sebagai sahabat dan adik. Bayangkan jika kamu punya adik dan dia tidak pernah menghubungimu lagi. Dan ini adalah band yang sangat menyayangi Riana. Mereka bagaikan keluarga dulunya.
"Sorry," hanya itu yang mampu dijawab oleh Riana, merasa lucu tertangkap berbohong oleh Jonathan.
"Do you still have the gigs on Kiss Me?" tanya Jonathan yang mampu mengembalikan dirinya ke atas panggung, menyadari bahwa dia masih tampil.
"Yes," jawab Riana yakin.
"Kalian mungkin bertanya-tanya bagaimana kita bisa kenal. Kalian bisa tanyakan sendiri ke Riana nanti setelah acara selesai," kata Jonathan kepada penontonnya, "Kita dulu sering nyanyi bersama dan pernah cover lagu Kiss Me dari Sixpence None The Richer."
Terdengan riuh penonton senang. Lagu pun dimainkan, Riana dan Jonathan mulai bernyanyi.

"Hey, we should catch up on things. A lot of things," kata Jonathan kepada Riana setelah lagu selesai dan sebelum Riana turun dari panggung.
"Free your time after the show," jawab Riana singkat dan kemudian turun.

"Oh, my God, Riana!!!" seru para anggota band lain yang tampaknya sudah menahan diri ingin melakukan itu di atas panggung tadi. Mereka memeluknya, mengacak-acak rambutnya, mencubit pipinya, dan aneka perbuatan lain yang gemas. Mereka memutuskan untuk hang out di coffee shop 24 jam di mall tempat Riana bekerja.
"Guys, stop it. You're too old to do this now. C'mon!" protes Riana karena penampilannya tak lagi cantik, rambutnya acak-acakan, pipinya merah.
Kemudian mereka berlima duduk melingkar. Riana, Jonathan, Eddy, Yan, dan Cliff.
"You owe us a lot! Stories!" tuntut Eddy tanpa basa basi.
"You stopped contacting us. Why?" serang Yan.
"It's us, Riana. Your brothers!" Cliff tak mau kalah.
Jonathan tampak diam, menikmati pemandangan ini.
"One at a time guys," jawab Riana. Dia tahu mereka gemas. Antara marah, tapi tidak marah. Ah, sulit sekali menjelaskan keadaan ini.
"Okay, you wanna stories. I'm married," lanjut Riana sambil mengangkat tangan kanannya memamerkan cincin kawinnya. "I'm working now, been six years in this place. Good money. I don't sing anymore. But, don't worry I'm happy. I'm still writing sometimes. And, yes, I deleted all your contacts. I'm sorry. But I knew, you're not mad at me. You're just upset, not mad. Right?"
Apa yang dikatakan Riana benar. Dia tahu benar sifat mereka, dia tahu bawa mereka mengerti kenapa Riana seperti itu.
"But, why?" si Yan masih menuntut jawaban.
"I need to focus, Yan. Aku punya cita-cita yang lain, namun aku begitu mencintai dunia ini, dunia yang sama dengan apa yang kalian selami. Jika aku tidak benar-benar keluar dari dunia ini, aku tidak akan bisa mencapai cita-citaku," jawab Riana memuaskan tuntutan Yan.
"Apa semuanya berjalan sama seperti yang kamu inginkan, Riana?" tanya Jonathan, satu-satunya orang di dunia yang tidak bisa dia bohongi, bahkan setelah sepuluh tahun tidak bertemu. 
"Well, tidak semuanya berjalan lancar. But, I'm okay, at least here I am, having a job. And a husband." jawab Riana.
"It's funny, Riana, seeing you like this. Rapih," kata Jonathan, "Dan dewasa. It's not like you, but it's you.
Riana merasa lucu. Jonathan benar. Dirinya yang sekarang bisa jadi "it's me, but it's not, and I'm fine with it."
"Di mana suami kamu?" tanya Jonathan.
"Aku sembunyiin," canda Riana.
"Kasian," kata Eddy.
"Dia tahu seperti apa kamu dulu?" tanya Jonathan.
"Dia hanya tahu bahwa aku hobi nyanyi dan menulis."
"It's you, but not completely you," jelas Jonathan.
"Yep," Riana membenarkannya. "He's a good man. And I thought he wouldn't mind if I told the whole story about who I was. But, I just didn't want it. I wanted it to be apart from me, but not completely apart."
"You haven't changed completely," kata Jonathan. "Masih sama rumitnya."
"Bukan rumit. Realistis!" bela Riana yang disambut tawa teman-temannya itu.
"Ngomong-ngomong soal rumit, have you heard the news about Will?" tanya Jonathan, sedikit berhati-hati.
"Ya, aku dengan band-nya bubar. Dia solo karir, kan?" jawab Riana ringan. Dari nada Riana yang ringan ini, Jonathan tahu bahwa Riana sudah benar-benar move on.
"Yep. Suami kamu juga tidak tahu tentang masa lalu kamu dan Will?"
"Nope," jawab Riana sambil nyengir. "Kalian masih berteman dengan Will?"
"Dia yang lari dari kita. Bukan kita yang lari dari kita. Kayak kamu!" dengus Jonathan, pura-pura kesal. Yang lain pun tertawa, termasuk Riana.
"He was really in love with you, Riana. And I think he is still now," lanjut Jonathan. "You two were so perfect together."
"Aku punya cita-cita sendiri dan dia tidak bisa menerimaku dengan cita-citaku ini. Waktu itu aku harus fokus kuliah supaya bisa lulus. Jika aku lulus tepat waktu, maka aku bisa menjadi seperti ini sekarang. That's why we weren't that perfect, Jonathan," jelas Riana. "Dia tidak mau aku menjadi 'budak corporate.' Will mencintai musik sepenuhnya, untuk hidupnya. Aku memang mencintai musik, tapi tidak untuk menghidupi. Aku ingin kehidupan yang stabil, namun bahagia. Nah, musiklah yang akan menjadi penghiburku, yang akan membuat aku bahagia sejalan dengan cita-citaku ini. Namun, Will tidak bisa menerima musik hanya untuk sekedar penghibur."
"Our little girl is grown up now," canda Cliff.
"Hahaha... Lucu sekali, Cliff. Bagaimana kabar Will sekarang?" tanya Riana.
"Dia baik. Masih tekun bermusik. Belum ada wanita yang bisa dia ajak untuk serius," jawab Jonathan. "Kau benar, Riana. Terkadang Will memang harus menurunkan egonya sedikit untuk kehidupan yang lebih baik. Dia mencintai musik seperti kita semua, tapi aku rasa dia berlebihan."
"Yep, Glory saja sempat istirahat beberapa waktu karena kita masing-masing sudah berkeluarga. Kadang keluarga membutuhkan kita seutuhnya," jelas Cliff. "Jadwal kita pun tidak sepenuh dulu."
"Nah! Itu!" seru Riana. "Will tidak pernah ada seutuhnya ketika aku menginginkannya."
"Jadi, suami kamu sekarang selalu ada seutuhnya buat kamu?" goda Jonathan.
"Hahaha... Ya, kira-kira seperti itu. Dia selalu menikmati ketika aku bernyanyi atau ketika aku menulis. Dia selalu tertawa geli, tapi tidak mengejekku, ketika aku clumsy. Dia bisa masak! Thank God! You know I've never been good at cooking. Dia mencintai olahraga sama seperti kita mencintai musik. Dan dia seperti aku juga, menganggap olahraga sebagai penghibur. Tapi, karena dia tidak mengerti musik, kadang sedih juga tidak ada yang bisa diajak ngobrol tentang musik."
"Dia 'budak corporate' juga?" tanya Eddy sedikit mengejek.
"Hahaha... Iya, seperti aku."
"Tampaknya adek kecil kita baik-baik saja, ya. Kita sempat khawatir ketika kau menghilang," kata Yan. 
"Maaf, guys."
"But, wait. Kau mencintai seseorang yang bukan dari kalangan paham musik? Kau yakin?" tanya Jonathan. Nadanya antara curiga dan khawatir.
Ah, manusia satu ini memang terlalu mengenal aku, pikir Riana. "You know, Jonathan, aku ingin dilahirkan kembali. Aku ingin menjadi orang yang sepenuhnya baru dan berbeda. Aku tahu mencintai seseorang dari kalangan kita tidak akan membuat aku menjadi lebih baik. Aku lebih memilih mencintai seseorang yang berada di luar duniaku yang dulu. Memang terkadang aku merasa sedikit tidak dimengerti karena kegilaanku ini, tapi dialah yang mampu membuatku untuk tidak menjadi gila. Dia yang mampu membuatku stabil. And I'm fine, don't you worry, Jonathan. Dia pelindungku."
"Baiklah," kata Jonathan setelah diyakinkan oleh Riana. "Ini sudah hampir tengah malam. Kamu kita antar saja, ya?"
"Jangan khawatir. Suamiku akan menjemputku."
Jonathan terlihat sedikit terkejut dan kemudian merasa tenang. Terkejut karena Riana yang sekarang berbeda dari Riana yang dulu. Dulu dia begitu mandiri. Semuanya dia laukan sendiri, bahkan jika harus pulang malam pun (terkadang Jonathan dan teman-temannya harus memaksa Riana supaya mereka yang antar dia pulang). Sekarang ada seseorang yang akan setia dan melakukan apa saja untuk dia. Dan yang lebih penting lagi, dia bisa menerima itu, menurunkan sedikit egonya agar orang lain melakukan sesuatu untuknya.
"Kau harus mengenalkan kita kepada suamimu nanti," pinta Jonathan.
"Baiklah. Tapi biarkan aku yang memimpin percakapan, oke? Kalian diam saja. Kalian kalau bicara suka ngacau. Hehehe..."

Tak lama kemudian suami Riana, Dylan, menjemputnya. Riana memperkenalkan Dylan kepada para anggota band. Riana menjelaskan bahwa mereka adalah teman lama, namun tidak menjelaskan bahwa Riana pernah satu panggung dengan mereka.

"Kamu tidak pernah cerita kalau kamu punya teman sekeren mereka," kata Dylan lembut di dalam mobil ketika perjalanan pulang.
"Mereka? Keren? Ayolah, Dylan. Hanya karena mereka terkenal buka berarti mereka keren. Hehehe..." jawab Riana terkekeh. Berharap pernyataannya dapat mengalihkan pembicaraan.
"Beneran keren, kok. Jadi memang benar dulu ketika mereka belum seterkenal ini, kamu pernah nulis lagu untuk mereka?"
"Hehehe... Iya, sayang. Hanya beberapa saja."
"Kenapa kamu tidak meneruskan kerjasama dengan mereka? Sepertinya bagus untukmu."
"Kalau aku tidak berhenti menulis lagu untuk mereka, aku enggak akan ketemu kamu, dong," canda Riana.
"Oh, iya, ya. Benar juga," kata Dylan sambil mengelus lembut kepala Riana.

***

Note : nama Glory di cerita ini terinpisrasi dari New Found Glory karena si penulis sedang suka-sukanya dengerin lagi mereka. Hihihi...