Oct 21, 2009

Believe

"Wanna hold my wife when I get home. Wanna tell the kids, they'll never know how much I love to see them smile."

Sepenggal lirik lagu dari Yellowcard yang berjudul Believe. Lirik itu membuat saya bertanya-tanya dalam hati apakah setiap ayah di dunia ini akan menyanyikan lirik itu? Hmmm... Alangkah indahnya jika jawabannya adalah "Ya."

Lirik lengkap bisa dilihat di sini.

Oya, baru aja dapet award dari Mbak Fanny. Makasih, Mbak. Tapi belum sempet ambil. Hoho...

Oct 14, 2009

Si Gadis Itu

*sebelumnya postingan ini saya kasih judul 'Gadis Kecil Itu'. Ternyata judulnya sama ama punya seorang kawan. Haha!*

Si gadis kecil itu tertawa riang saat melihat teman-temannya bermain. Gadis itu baru bisa berjalan di umur 2 tahun. Kakinya tak sekuat kaki teman-temannya. Dia sering terjatuh saat berjalan, kadang karena tersandung kerikil, kadang tersandung oleh kakinya sendiri. Dan dia sering menangis saat melihat lututnya terluka. Butuh waktu lama untuk menghentikan tangisan kerasnya. Dia dikenal sebagai anak yang cengeng karena itu.

Dia sering dititipkan ke rumah neneknya di malam hari saat ayah dan ibunya ada perlu dengan teman-teman kantor mereka. Dia sering tidak bisa tidur dan hanya memandangi wajah neneknya. Kadang dia mengganggu sepupunya yang sedang mengerjakan tugas fisikanya. Saat ayah dan ibunya datang menjemputnya pulang, dia akan berpura-pura tertidur pulas agar si ayah menggendongnya. Dan di tengah malam dia akan menangis keras bila boneka kesayangannya tertinggal di rumah neneknya. Si ayah pun akan kembali ke rumah neneknya untuk mengambil boneka kecil berbentuk anjing berwarna coklat itu. Gadis kecil itu memang manja.

Dan bila dia tak bisa tidur, dia akan memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut dan menghisapnya.

Gadis kecil itu akan berpura-pura sakit agar si ibu menyuapinya saat makan. Trik itu selalu berhasil untuk beberapa saat.

Gadis kecil itu pun tumbuh menjadi remaja bertubuh mungil. Meskipun tubuhnya mungil, sang ayah tidak akan kuat lagi untuk menggendongnya saat dia tertidur di rumah eyangnya. Trik pura-pura sakit pun tak berhasil lagi untuknya. Dia sudah tak pernah menghisap jempolnya lagi. Sebagai gantinya, dia hobi menggigit-gigit jarinya saat merasa sepi, sedih, dan bosan.

Jatuh saat berjalan atau berlari pun tak membuatnya menangis. Dia tidak secengeng dulu. Dulu, dia akan menangis dengan suara lantang khas anak kecil. Sekarang, bila dia menangis, tak seorang pun akan mendengarnya. "Quiet is my loudest cry," itulah lirik lagu favoritnya.

Satu hal yang tidak berubah dari gadis kecil itu, yaitu dia masih tidur ditemani boneka mungil favoritnya. Dia bahkan lupa sejak kapan dia memiliki boneka itu. Dia masih sangat kecil waktu itu. Berbagai macam boneka yang diberi oleh ayah dan para saudaranya, hanya boneka mungil itu yang masih bertahan dalam peluknya saat tidur. Saat ia senang, ia akan menciumnya. Saat ia marah, ia akan membantingnya. Dan saat ia sedih, ia akan memeluknya erat.

Oct 9, 2009

Dua Perbedaan Yang Sama

Kalian 2 orang yang berbeda dan sama. Dua lagu yang berbeda dengan cerita yang sama. Kalian memanggilku dengan satu nama, tetapi dengan suara yang berbeda. Ya, hanya kalian berdua yang memanggilku seperti itu. Dan aku pun memanggil kalian dengan nama yang berbeda tetapi mempunyai arti yang sama.

Kupikir kalian akan mempunyai ending cerita yang sama. Ternyata tidak. Ending yang berbeda untuk cerita yang sama.

Oct 1, 2009

I Still Try To Find My Place

Tiba-tiba keinget lirik Diary of Jane-nya Breaking Benjamin. "As I burn another page, as I look the other way, I still try to find my place in the diary of Jane."

Bukan, bukan mau bahas Breaking Benjamin ato si Jane entah siapa itu.

Cuma mau bahas makna yang terkandung di lirik tersebut. Well, here I go. Dalam kehidupan kita selalu sibuk "membaca" orang lain untuk mencari apa arti diri kita bagi mereka. Apakah kita sebagai teman, musuh, sahabat, anak, kakak, adik, maupun seseorang yang lebih dari sahabat. Apakah kita cukup baik ato buruk bagi mereka, seberapa baik kah kita bagi mereka, dan seberapa buruk kah kita bagi mereka. Apakah kita hanya sebagai seseorang yang meninggalkan catatan kecil di buku mereka dan segera dilupakan karena tidak terbaca lagi saat mereka membalik halaman buku mereka. Ataukah sebagai orang yang meninggalkan coretan dengan tinta warna yang lain, sehingga masih akan tetap menarik perhatian saat mereka membalik-balik halaman buku mereka.

Si Abang pernah bilang, "My friend is my foe (temanku adalah musuhku sendiri)." Saya harap tidak ada di antara kalian semua yang meninggalkan catatan sebagai teman sekaligus musuh.

Dan apa yang akan kita lakukan setelah kita menemukan catatan diri kita di dalam buku mereka? Apakah kita akan menyuruh mereka berhenti menulis? Ataukah sebaliknya? "Tetaplah menulis tentang diriku dengan tinta warna favoritmu." itukah yang akan kita katakan? Atau kita akan masa bodoh? Terserah mereka, mau tetap menulis, atau berhenti, atau menulisnya dengan tinta warna yang paling dibenci, atau bahkan membakar kertas itu. It's all your choise and I hope you'll choose the best one.

Enjoy your writing and your reading.

Nite, everyone.