Mar 31, 2010

Titip Dia, Ya =)

Anak itu selalu menarik kembali selimutnya di pagi hari untuk kembali tidur dan bangun lagi saat sinar matahari mulai terasa teriknya. Tapi tidak untuk kali ini, ia melangkah ke luar rumahnya, menanti angin pagi.

"Tolong pergi ke tempatnya, ya. Bangunkan dia untuk ibadah di pagi hari," kata anak itu kepada si angin.

Saat matahari mulai memunculkan sinarnya, anak itu pun berkata, "Tolong jangan biarkan dia melewatkan sarapannya, ya."

Saat matahari mulai ganas di siang hari, anak itu kembali berbicara dengannya. "Tolong berikan semangatmu yang membara untuknya," kata anak itu.

Saat hujan di sore hari, orang-orang mulai menyangka dia gila, berbicara sendiri.

"Hujan, kau mau menyusul ke tempatnya? Titip salam, ya." Senyum mengembang di wajahnya.

Hari mulai gelap. Anak itu berharap bulan atau bintang muncul di langit agar dia dapat berkata, "Tolong ya jaga dia agar tidak mimpi buruk."

Mar 22, 2010

Semoga Lekas Sembuh ^_^

Untuk yang kesekiankalinya saya mengutip kalimat ini: cepatlah sembuh bagi siapa saja di belahan dunia ini yang sedang merasa kurang sehat.

Asal kau tahu saja, banyak yang mengkhawatirkanmu.

^_^

SUMPAH, KANGEN!

Ngerasa kehilangan banyak waktu untuk ngobrol. Ngobrol dalam arti sebenernya, denger suaranya, denger ketawanya, denger jokes-nya, denger dia nyanyi, denger dia cerita, gak cuma sekedar sms. Sumpah, kangen banget ama dia. Dia tau gak ya kalo dikangenin ampe kayak gini? Bener-bener pengen denger dia cerita sana-sini.

Dan malam ini, semua tumpah. Bantal ampe basah, mata bengkak.

I miss you so bad. Dan gak ngerti harus bilang apa lagi.

Good luck for you out there.

Dan mungkin, akan ada anak kecil yang nangis ampe ketiduran. Dengan balon yang dulu pernah diembatnya dari seorang teman, dan balon itu sekarang udah kempes.

Mar 19, 2010

Masak, Kangen, Weekend

Malem semuanya. Hehe... Pengen update blog, tapi bingung mau ngomongin apa (tepuk jidat).

Kuliah udah kembali normal. Tapi kelakuan saya belum normal juga. Mwehehehe...

Dan saya juga udah mulai belajar masak. Hehe... Masak sop ama sayur bening, plus goreng tempe (tepuk jidat). Masih masak yang gampang-gampang dulu aja. Besok mungkin nyokap ngajarin bikin oseng-oseng. Doakan masakan saya tidak menimbulkan kerusakan pikiran dan gizi. Yeah. Wish me luck.

Dan sepertinya si Kebo udah ngiler dan ngimpi makanan beracun. Dan saya kangen berat ama dia. Doh. Yang dikangenin malah (kayaknya) udah pules banget tidurnya. Pengen ngobrol T.T

Lha, malah jadi curhat (garuk-garuk kepala).

Sekian dulu sajalah update-nya. Besok hari Sabtu, semoga weekend kalian menyenangkan =)

Ciao!

Mar 17, 2010

Berjalan dan Berlarilah Bersama =)

Gadis itu kehilangan jejak orang yang sejak lama telah diikutinya. Rupanya dia kalah cepat. Gadis itu memutuskan untuk berjalan saja, tak lagi berlari. Berjalan tanpa tujuan yang pasti.

"Hei!"
Terdengar suara seseorang dari belakang gadis itu. Gadis itu menoleh.

"Ya?" tanya gadis itu.

Pria itu nampak asing baginya. Dia terengah-engah. Muncul senyum di antara sela nafasnya yang tidak beraturan.

"Kau tersesat?" tanya pria itu.
Gadis itu hanya mengangkat bahunya.
"Aku boleh menemanimu?" tanya pria itu.
Gadis itu mengangguk ragu.

Mereka berdua pun berjalan bersama. Terkadang gadis itu tertinggal di belakang karena jalannya terlalu lambat. Terkadang si pria harus memperlambat langkahnya untuk dapat berjalan beriringan.

Kadang si gadis harus berlari kecil untuk menyusul pria itu. Kadang si pria hanya berhenti dan diam menunggunya, dan tak jarang berseru, "Cepatlah sedikit, Kaki Kecil!" Tak jarang juga si gadis berseru, "Sabarlah sedikit."

"Kenapa tak kau genggam saja tanganku? Dengan begitu akan lebih mudah," kata pria itu.
"Hei, aku masih bisa mengikutimu."

Beberapa lama selama perjalanan, akhirnya gadis itu pun menggenggam tangan si pria.
"Eh?" si pria keheranan.
Gadis itu tersenyum dan berkata, "Benar katamu, lebih mudah bila kita bergandengan. Kau bisa menarikku saat aku terlalu lambat. Dan aku bisa menahanmu sedikit saat kau melangkah terlalu cepat. Dan kau bisa segera menolongku saat jatuh tersandung kerikil."
"Bagaimana kau bisa menahanku? Tenagamu terlalu kecil untuk menahanku," kata si pria.
"Mengalah lah sedikit saat ku menarik tanganmu."
"Baiklah."
Keduanya tersenyum.
"Tanganmu terlalu kecil, genggam yang erat, ya," pinta pria itu.
"Iya. Kau juga jangan melepas genggamanmu."