Sep 30, 2010

Timbul dan Tenggelam

Seperti biasa, gadis itu menunggu di tepi pantai di bawah langit biru, kaki mungilnya memainkan pasir putih, telinganya mendengarkan suara laut dan angin, rambut pendeknya dibiarkannya menari-nari mengikuti angin, serta matanya menyipit memandang ke arah laut. Dia menunggu makhluk yang kadang muncul ke permukaan air dan mengajaknya duduk beralaskan pasir putih. Tapi, terkadang makhluk itu akan kembali ke dalam laut dan hilang ditelan birunya air. Gadis itu akan merasa kesal dan sedih jika makhluk itu kembali menyelam dan tak terlihat.

Kemudian gadis itu berkata pada birunya laut, "Hei, kenapa kau selalu saja seperti ini? Kadang kau muncul, kadang kau menghilang. Kau tau kan aku tak bisa berenang menyusulmu dan menarikmu kembali ke darat. Asal kau tau, di darat, aku kesepian."

"Hei, aku mendengarmu," tiba-tiba makhluk itu berada di belakangnya. "Aku mengawasimu dari tadi. Sekarang, coba lihat dirimu dan diriku baik-baik. Bercerminlah. Kau lah yang seharusnya makhluk laut. Aku adalah makhluk darat. Kau tak berani menyentuh air. Kau takut tenggelam. Air adalah kehidupanmu. Pikirkanlah itu."

Sep 27, 2010

I'll Be The One Who Hates You Most

"Kau juga membenciku sekarang?"

"Eh?"

"Ya, kan? Aku dapat membacanya dengan jelas. Tak perlu kau sembunyikan lagi."

"Kupikir kau yang membenciku. Kau terang-terang memperlihatkannya."

"Ah, akhirnya ketahuan juga. Aku memang tak pandai menyembunyikan sesuatu."

"Kita impas, kan?"

"Hmmm... Aku akan menjadi orang yang paling membencimu di dunia ini."

"Silakan saja. Silakan mencoba. Kita lihat apakah kau akan bisa menjadi orang itu."

"Baiklah. Adios. Muchas gracias."

Sep 18, 2010

The Green Light

"Hey! I gave you my green light. Did you see it?"

"Eh? So, what's the matter?"

"Errr... I've been wondering if you realized it or you didn't. And... Errr... I'm not sure if you'll give me the same light."

"..."

"The light is only for you. Not for them. I've told you for many times."