Dec 22, 2010

Bertahanlah, Tembok

Sudah beberapa lama ini saya membangun tembok pertahanan. Tembok yang saya bangun dengan susah payah agar menjadi tembok yang kokoh, melindungi saya. Saya tau tembok ini belum sempurna. Belum seperti yang saya harapkan. Tapi ini sudah mencapai setengah jalan. Dan saya tidak mau tembok ini runtuh dengan mudahnya karena belum sempurna. Dan saya tidak akan mengijinkan siapa pun merubuhkannya.

Maaf karena saya telah bersikap sombong. Kamu adalah satu-satunya orang yang mampu merubuhkan tembok ini dengan mudahnya. Dan saya tidak akan mengijinkanmu untuk menyentuhnya sama sekali.

Dec 17, 2010

Memori Tentangmu

“I’m falling into the memories of you, things we used to do.”
(Yellowcard-One Year, Six Months)


Entah kenapa, bukan dalam rangka apa-apa juga, memori saya berlari ke kisah tentang seseorang. Dan saya ingin berbagi cerita tentang seseorang itu. Seseorang yang pernah saya kagumi, meninggalkan jejak yang begitu jelas di perjalanan hidup saya. Mungkin bukan hanya di kehidupan saya saja, kehidupan orang lain juga, banyak orang, saya tahu itu.

Asal kalian tahu, dulu, saya begitu mengagumi orang ini. Rasa kagum yang sangat besar. Dia merupakan orang yang pandai masuk dalam kehidupan orang lain, banyak orang, dan membuat jejak kakinya di sana. Dan dengan mudahnya dia pergi begitu saja. Tak peduli bahwa orang lain menaruh perhatian yang besar kepadanya, memikirkannya, dan mengkhawatirkannya.
Saya ingat, dulu, saya selalu menyanyikan satu lagu untuk dia. Pernah suatu saat suara kita menyatu menyanyikan lagu itu. Tapi, saya tahu, suaranya tidak ditujukan untuk saya. Untuk orang lain. Haha… Masa bodohlah, yang penting saya bisa menikmati lagu itu bersamanya.
Ketika saya memutuskan untuk menjalani hidup bersama orang lain, —hanya untuk sementara waktu, biasalah, anak muda. Haha— rasa kagum itu menghilang. Saat itu, saya tidak mempunyai keberanian untuk mendengarkan lagu itu. Hal itu muncul karena ketakutan jika rasa kagum itu kembali muncul. Saya menghormati orang yang sedang “bersama” saya waktu itu. Bagaimana jadinya jika saya kembali mengagumi orang itu di saat saya “bersama” orang lain? Saya tahu, rasa kagum ini terlalu besar dan susah payah saya harus “kembali ke bumi”, kembali kepada realita bahwa rasa ini tidak setimpal. Jerih payah saya ini tidak boleh sia-sia. Dan saya begitu menghormati orang baru yang datang dalam kehidupan saya, membuat jejak yang lain.
Dan ketika saya diharuskan untuk berjalan sendiri lagi, tidak menuntun atau dituntun oleh orang lain, rasa takut itu pun hilang. Bukannya masih menyimpan rasa kagum itu, hanya merasa takjub saja bila mengingat bahwa saya pernah mengagumi seseorang dengan rasa yang begitu besar seperti itu.

Itulah kisah seseorang yang pernah saya anggap spesial di kehidupan saya. Hanya ingin membagi memori saya.

Dec 12, 2010

Teriakan Yang Terbaca

Ah, kau berteriak
Kau baru saja berteriak bukan?
Bukan, itu bukan teriakan yang dapat didengar
Itu teriakan yang terbaca
Kau berteriak melalui tulisan
Karena saat kau bersuara, tak ada yang mendengarkan bukan?
Dengan tulisan, kau berharap mereka yang tidak bisa mendengar mampu membacanya
Semoga saja mereka membacanya

Tenang saja
Aku sering melakukan itu
Menulis dalam teriakan
Karena saat aku bersuara, mereka tidak mendengarku
Dengan tulisan, aku berharap mereka yang tidak bisa mendengar mampu membacanya
Dan, ya, sebagian dari mereka membacanya dan mampu mengerti
Sebagian lagi hanya membacanya dan pergi begitu saja, tak mampu mengerti
Sisanya, melihat saja pun tidak, apalagi membacanya

Aku pernah berteriak untukmu
Ah, terlalu sering
Senang rasanya saat kau menoleh, menyapa, menyuruhku untuk bersuara normal karena kau mendengarku
Tapi, kau terlalu sering untuk tidak mendengar, membaca, bahkan melihat