May 28, 2011

Stop Crying Your Heart Out - OST The Butterfly Effect

http://youtu.be/WqPprVrwF30

"Stop Crying Your Heart Out"

Hold up
Hold on
Don't be scared
You'll never change what's been and gone

May your smile (may your smile)
Shine on (shine on)
Don't be scared (don't be scared)
Your destiny may keep you warm

Cos all of the stars
Are fading away
Just try not to worry
You'll see them some day
Take what you need
And be on your way
And stop crying your heart out

Get up (get up)
Come on (come on)
Why're you scared? (I'm not scared)
You'll never change
What's been and gone

Cos all of the stars
Are fading away
Just try not to worry
You'll see them some day
Take what you need
And be on your way
And stop crying your heart out

Cos all of the stars
Are fading away
Just try not to worry
You'll see them some day
Take what you need
And be on your way
And stop crying your heart out

We're all of us stars
We're fading away
Just try not to worry
You'll see us some day
Just take what you need
And be on your way
And stop crying your heart out
Stop crying your heart out
Stop crying your heart out

(By: Oasis - OST. The Butterfly Effect)

May 22, 2011

Titik Awal dan Akhir

Memandang luka baru yang menganga di telapak tangannya, gadis itu merintih kesakitan. Angin malam membuatnya kedinginan dan membuat luka itu terasa semakin perih. Dia pun mengutuk apa saja yang terlintas di pikirannya. Mengutuk orang yang telah menggoreskan luka itu di tangannya. Mengutuk angin malam yang membuat keadaan semakin buruk. Mengutuk taman di mana ia berada sekarang karena pepohonan yang rimbun akan membuat malam semakin dingin dan tempat yang terbuka akan membuat angin semakin ganas. Mengutuk betapa sepinya malam itu, tak ada seorang pun selain dirinya yang berada di taman itu. Mengutuk dirinya sendiri karena tidak segera mencari tempat baru yang lebih nyaman.

Karena tidak melihat pertanda bahwa keadaan akan membaik, gadis itu bangkit dan mulai berjalan mencari tempat baru. Dia tidak berharap bertemu dengan manusia lain, dia hanya berharap menemukan tempat yang lebih hangat dan ramah. Tapi, dia juga tidak keberatan jika harus bertemu dengan seseorang atau beberapa. Hanya saja itu bukan tujuan utamanya.




Dia berjalan dengan menekan lukanya agar darah berhenti mengalir. Dia sering menonton film perang. Para prajurit akan menekankan tangannya di tempat yang terluka untuk menghentikan pendarahan sebelum petugas medis datang menolongnya. Gadis itu mulai memasuki belahan dunia di mana sinar matahari bersinar. Udara di tempat itu hangat sekali, belum terlalu panas untuk ukuran siang hari. Tempat itu berhasil membuatnya tidak menggigil kedinginan lagi. Dia mulai merasa nyaman di tempat baru itu dan mencari tempat duduk untuk beristirahat atau menetap bila memungkinkan. Setelah duduk dengan nyaman, dia memperhatikan pemandangan di sekitarnya. Ada beberapa orang yang hilir mudik di hadapannya. Mereka begitu tenang melakukan aktivitasnya. Cahaya matahari membuat tempat itu lebih berwarna dibandingkan dengan taman malam hari. Dia dapat melihat merah, biru, kuning, dan warna lain dengan lebih jelas dan tajam.

“Hai!” sapa seseorang yang sedang melintas di depannya. “Kau orang baru di sini?”
“Eh?” gadis itu sedikit terkejut ada orang yang menyapanya. “Ah, iya. Aku orang baru.” Dia tersenyum.
“Selamat datang kalau begitu.” Orang itu tersenyum balik dan duduk di sampingnya. Seorang lelaki yang ramah, berkulit cerah, dan tatapan mata yang teduh.
“Terima kasih,” kata gadis itu, sedikit menggeser posisi duduknya untuk memberi tempat kepada lelaki itu.
“Kau terluka,” kata lelaki itu sambil memandang tangan si gadis yang berdarah.
“Ah, luka ini. Sepertinya sudah mulai mengering meskipun belum sempurna.”
“Ijinkan aku untuk merawatnya.” Lelaki itu mengeluarkan kain putih yang masih bersih dari dalam saku celananya. Kain itu diikatkan ke tangan si gadis yang terluka. Tidak terlalu erat, tapi cukup untuk menghentikan darah yang masih mengalir. Gadis itu merasakan kelembutan yang luar biasa pada kain tersebut.
“Kau mengingatkanku pada petugas medis perang di film-film yang sering kutonton.”
Lelaki itu hanya tersenyum mendengar ucapan si gadis. Gadis itu merasa lega karena lelaki itu tidak menanyainya bagaimana dia mendapatkan luka itu.
“Kau berasal dari mana?” tanya lelaki itu.
“Berasal dari belahan dunia di mana bulan dan bintang yang bersinar.”
“Ceritakan tentang tempat itu.”
“Di sana dingin. Tapi aku pernah merasakan kehangatan di sana. Tidak terlalu buruk sebenarnya keadaan di sana. Kau mampu membuat gambar di langit dengan menghubungkan satu titik bintang dengan bintang lainnya. Tidak terlalu ramai di sana, hanya di beberapa tempat saja yang penghuninya beraktivitas. Tempat terakhir yang kutempati di sana merupakan taman yang tenang dan dingin. Tapi, saat itu perasaanku sedang kacau. Jadi, kutinggalkan tempat itu dan di sinilah aku sekarang.”
“Kau akan kembali ke sana lagi?”
Gadis itu menggeleng.

Lelaki itu memandang tangan gadis tersebut yang terbalut kain putihnya. “Sepertinya lukamu sudah mengering.”
“Ah, iya. Terima kasih.”
“Baiklah, aku pergi dulu kalau begitu.” Lelaki itu tampak tergesa-gesa. Ingin sekali gadis itu menahannya. Tapi, sepertinya memang ada keadaan yang lebih mendesak untuk diurus oleh lelaki itu. Mungkin orang itu memang seorang petugas medis atau semacamnya. Memastikan pasiennya baik-baik saja hingga lukanya benar-benar sembuh.
“Berhati-hatilah, jangan ceroboh,” pesan lelaki itu dengan senyum, kemudian bangkit dan berjalan menjauh.
Gadis itu tersenyum dan melambaikan tangannya. Orang itu tidak melihat lambaiannya karena telah berjalan memunggunginya.

Gadis itu tidak keberatan jika disuruh menetap di tempat itu dengan sinar hangat matahari. Tapi setelah berpikir panjang, dia akan lebih senang jika orang tadi menemaninya. Tempat yang sempurna tidak akan terasa sempurna bila tidak bersama orang yang sempurna juga. Akhirnya dia memutuskan untuk mencari tempat lain.

Gadis itu mencari tempat duduk agar dia bisa beristirahat sebentar dan memijit kakinya yang kelelahan. Dunia dengan matahari yang bersinar ternyata cukup luas dan membuat otot-otot di kakinya bekerja sedikit lebih keras. Tiba-tiba angin dingin bertiup di permukaan kulitnya. Gadis itu merasa tidak asing dengan situasi seperti ini. Dia mendongak. Langit hitam, bulan, dan bintang adalah hal yang ditangkap oleh matanya. Bulan itu mengeluarkan sinar emas yang sempurna untuk malam hari. Sinar terang dan hangatnya matahari membuatnya lupa sejenak dengan sinar emas bulan dan dinginnya malam. Dan dia pun tersadar bahwa dia kembali ke titik awal tempat dia berasal. Yang dia lakukan selama ini hanyalah berjalan memutar. Putaran yang cukup jauh.

Perjalanan yang sia-siakah? Tidak. Setidaknya dia pernah merasakan siang hari. Setidaknya lukanya telah disembuhkan. Setidaknya dia telah bertemu Tuan Petugas Medis. Setidaknya dia mendapat nasehat untuk lebih berhati-hati dan tidak ceroboh. Dia memandang kain putih yang masih membalut tangannya. Dia melepasnya. Luka itu memang telah sembuh, tidak terasa perih, maupun mengeluarkan darah. Tapi, bekas luka itu akan sulit hilang.

Gambar di ambil di sini.

May 9, 2011

Crash And Burn



When you feel all alone
And the world has turned its back on you
Give me a moment please to tame your wild wild heart
I know you feel like the walls are closing in on you
It's hard to find relief and people can be so cold
When darkness is upon your door and you feel like you can't take anymore

Let me be the one you call
If you jump I'll break your fall
Lift you up and fly away with you into the night
If you need to fall apart
I can mend a broken heart
If you need to crash then crash and burn
You're not alone

When you feel all alone
And a loyal friend is hard to find
You're caught in a one way street
With the monsters in your head
When hopes and dreams are far away and
You feel like you can't face the day

Let me be the one you call
If you jump I'll break your fall
Lift you up and fly away with you into the night
If you need to fall apart
I can mend a broken heart
If you need to crash then crash and burn
You're not alone

'Cause there has always been heartache and pain
And when it's over you'll breathe again
You'll breath again

When you feel all alone
And the world has turned its back on you
Give me a moment please
To tame your wild wild heart

Let me be the one you call
If you jump I'll break your fall
Lift you up and fly away with you into the night
If you need to fall apart
I can mend a broken heart
If you need to crash then crash and burn
You're not alone

(Savage Garden's Song)

NB: Selain liriknya yang bikin saya berkaca-kaca, vokalis Savage Garden sempat memperagakan bahasa isyarat untuk kaum tuna rungu di video ini. Nice song and video.

May 2, 2011

Menunda Aku

Entah kenapa belakang ini saya merasa kehilangan diri saya sendiri. Tidak menikmati apa pun yang saya lakukan. Sering timbul rasa benci, tetapi kemudian hilang begitu saja, dan muncul kembali. Hingar bingar yang memekakkan telinga. Cahaya yang membutakan mata. Tetapi, terkadang hanya hingar bingar dan cahaya yang dapat membuat saya menari.
Saya merasa bahwa saya “menunda” untuk menjadi “aku”. Sepertinya memang saya telah lama membuang “aku”.



Cogito ergo sum, merupakan ungkapan yang diutarakan oleh Descrates yang mempunyai arti: aku berpikir, maka aku ada. Ini adalah ilmu yang pernah saya dapatkan di semester satu. Manusia adalah makhluk yang berpikir. Mengapa menggunakan “aku”, bukan “saya”, di dalam ilmu filasafat? Karena “aku” lebih mengungkapkan keutuhannya.
Pernah suatu malam saya menjadi “aku”. Aku yang sepenuhnya. Tapi, keesokan harinya, saya tahu bahwa saya hidup di dunia nyata dengan segala rasionalitas dan perasaan yang membungkusnya. Saya begitu menikmati malam itu. Terima kasih telah membuat saya mengambil “aku” dan mengenakannya malam itu.

“You make me honest, you make me a whole person.” (Mulder, The X-Files)

Gambar di ambil di sini.