Feb 20, 2013

Django Unchained

Beberapa hari yang lalu, saya nonton film berjudul Django Unchained di bioskop bersama Mamas Pacar. Dia memang penggemar berat sutradara film ini, yaitu Quentin Tarantino. Django Unchained merupakan film produksi Sony Pictures yang dibintangi oleh beberapa artis terkenal, seperti Jamie Foxx, Christoph Waltz, Leonardo DiCaprio, Kerry Washington, dan Samuel L. Jackson.
Django Unchained
Film ini berlatar belakang pada tahun 1858 di daerah Amerika Selatan. Saat itu sistem perbudakan kulit hitam oleh kulit putih masih sangat marak. Django (Jamie Foxx) adalah salah satu budak yang diperjualbelikan saat itu. Pada suatu hari, dia diselamatkan oleh seorang pemburu imbalan yang menyamar sebagai dokter gigi bernama dr. King Schultz (Christoph Waltz). Pada awalnya, Schultz membeli dan membebaskan Django dengan niat untuk membantu misi perburuannya. Schultz pada saat itu memburu rombongan Brittle bersaudara dan membutuhkan seseorang yang mengenali wajah-wajah mereka. Secara kebetulan, Django mengenali mereka karena mereka dulu pernah menyiksanya dan istrinya, Broomhilda (Kerry Washington). Setelah beberapa lama bersama Django, Schultz merasa bahwa Django perlu dibekali keahlian dalam berburu.
Schultz terkagum-kagum dengan Django karena Django cepat belajar dan mempunyai bakat dalam menembak jitu. Akhirnya, Schultz memutuskan untuk menjadikan Django partner berburunya dan membagi  sepertiga imbalannya kepada Django. Schultz mengaku belum pernah membeli dan membebaskan budak kulit hitam sebelumnya. Schultz merasa tersentuh karena Django begitu mencintai istrinya, Broomhilda. Schultz memutuskan untuk membantu Django dalam menemukan Broomhilda. Ternyata Broomhilda dijadikan wanita penghibur oleh seorang pemilik perkebunan bernama Calvin Candie (Leonardo DiCaprio). Seorang anak buah Candie yang bernama Stephen (Samuel L. Jackson) berhasil membuka kedok Schultz dan Django yang ingin membebaskan Broomhilda. Terjadilah keributan antara kubu Schultz dan Candie.
Secara garis besar saya suka jalan cerita dan setting film ini. Untuk pertama kalinya saya menonton film karya Quentin Tarantino, di bioskop pula. Salah satu hal yang kurang saya nikmati di film ini adalah kekejaman yang dipertontonkan oleh Tarantino. Darah ada di mana-mana. Errr... Saya suka karakter Schultz karena dia pintar berbicara dan meyakinkan orang. Saya suka Samuel L. Jackson di film ini karena dia berhasil keluar dari karakter yang biasa dia mainkan di film-film lain. Saya suka cara Tarantino membuat film yang menurut saya berbeda dari sutradara-sutradara lain, cara dia memilih pemain, cara dia memilih tema film, cara dia mengambil setting tempat, cara dia memilih lagu-lagu tema. Satu hal yang bikin saya nahan ketawa adalah cara Tarantino melakukan zoom in dan zoom out yang mengingatkan saya pada sinetron-sinetron Indonesia. Hahaha... Satu hal yang sangat disayangkan pada film ini menurut saya adalah karakter Django terkesan kurang mendalam. Terkesan dia hanyalah sidekick dari Schultz. Film ini saya beri empat bintang dari lima bintang.

Feb 15, 2013

Rumah

Aku selalu ingin keluar dari kotak ini. Ke mana pun arah pandangku beredar, pemandangan selalu saja sama. Aku bosan. Tempat ini terasa pengap bagiku. Betapa bahagianya aku ketika mendapat tiket keluar dari kotak ini.
Dunia luar memang indah dan menantang. Aku senang. Tapi aku juga takut. Banyak hal asing bagiku. Aku selalu merasa tidak nyaman dengan segala hal yang asing bagiku. Dan aku merasa lelah dengan ketakutanku. Aku lelah untuk selalu bersikap waspada.


Ketika kesempatanku habis dan aku sedang dalam perjalan kembali, aku melihatmu melambaikan tangan. Sedetik kemudian aku berada dalam pelukmu. Pelukmu mampu menghilangkan semua rasa takutku. Aku tahu aku tidak perlu khawatir lagi. Aku tahu aku aman sekarang. Kemudian kau memegang tanganku. Semua rasa lelah itu hilang. Dan aku tahu aku sedang berada di rumah dalam pelukmu dan genggamanmu.

Feb 1, 2013

Tom And Jerry

Like father, like daughter. Hahahaha... Mungkin itu ungkapan yang tepat untuk bapak saya dan saya. Kita punya selera yang sama dalam beberapa hal, salah satunya adalah tontonan TV. Saya dan bapak suka sekali menonton serial kartun Tom and Jerry. Kita berdua bisa ketawa-ketitwi sendiri kalau udah nonton serial kartun yang satu ini.
Tom and Jerry
Tom and Jerry merupakan serial kartun ciptaan William Hanna dan Joseph Barbera pada tahun 1940. Tom and Jerry bercerita tentang seekor kucing bernama Tom dan seekor tikus bernama Jerry yang selalu bermusuhan dan menimbulkan keributan di rumah yang mereka tinggali. Tom tidak mudah menyerah dalam memburu Jerry dengan menggunakan benda apa pun yang ada di sekitar rumah. Sayangnya, Tom hampir selalu gagal dalam menangkap Jerry. Jerry yang lincah dan pintar selalu bisa lolos dari cengkeraman Tom. Kartun ini sebenarnya cenderung kasar untuk ditonton oleh anak-anak sendirian. Tom dan Jerry hampir selalu menggunakan bahan-bahan peledak, alat-alat tajam, dan senjata api dalam perburuannya. Selalu terdapat kekerasan di dalamnya. Meskipun begitu, tidak terdapat adegan berdarah-darah di Tom and Jerry. Jadi, saran saya, dampingi anak-anak ketika menonton kartun ini. Bilang kepada mereka bahwa memukul atau menyakiti teman itu tidak baik. Untuk referensi petunjuk pengkategorian film berdasarkan umur, bisa dibaca di blog temen saya, Aneg.
Sebenarnya tidak selalu si semua episode mereka bermusuhan. Beberapa di antaranya (cenderung sedikit sebenarnya) menampilkan Tom dan Jerry saling membantu. Seperti di salah satu episode yang saya ingat, yaitu di mana Tom dan Jerry menemukan seekor anak anjing di saat hujan deras. Jerry merawat anak anjing itu. Pada awalnya Tom tidak menyukainya karena jatah susu Tom diminum oleh si anak anjing. Kemudian, entah bagaimana anak anjing tersebut lari dari rumah. Tom merasa tidak enak karena anak anjing tersebut belum bisa apa-apa dan terjebak hujan deras di luar sana. Tom pergi mencari anak anjing itu meskipun hujan sedang deras. Tom jatuh sakit karena kehujanan. Kemudian, Jerry serta si anak anjing pun merawat Tom. Untung saja anak anjing itu tidak apa-apa. Kemudian, sebagai rasa terima kasih, Tom memberikan jatah susunya kepada anak anjing itu.
Hal-hal yang saya suka dari kartun ini adalah cara penyampaian isi cerita tanpa banyak menggunakan dialog. Hampir di semua episode Tom and Jerry kedua hewan ini tidak berbicara. Mereka hanya menggunakan ekspresi dan gerakan tubuh untuk menunjukkan emosi dan tingkah laku yang lain. Ketika mereka mengeluarkan suara, paling hanya jeritan-jeritan saja. Hal kedua yang saya suka di kartun ini adalah penggunaan musik klasik sebagai latar suaranya. Sering kali diperlihatkan Tom dan Jerry sedang bermain alat musik seperti piano, gitar, harpa, terompet, dan lain-lain di dalam serial ini. Adegan favorit saya adalah ketika Tom bermain piano di mana Jerry tinggal di dalamnya. Jerry berusaha menghentikan aksi Tom memainkan piano karena dia merasa terganggu. Dalam aksi perburuan, si Tom tetap memainkan piano hingga akhir episode. Hal ketiga yang saya suka dari serial kartun ini adalah bagaimana Tom dan Jerry memanfaatkan semua perabot yang ada untuk aksi perburuan. Mulai dari peralatan rumah tangga, mebel, kendaraan, perkebunan, alat musik, hingga senjata dan alat peledak.


Serial Tom and Jerry favorit saya adalah versi dari Hanna-Barbera (1940-1954; 1975-1977) dan versi dari Chuck Jones (1963-1967). Saya suka karena gambarnya gemes dan ceritanya asik, bisa bikin ketawa banget.
Menurut saya, Tom and Jerry ini salah satu legenda perkartunan dunia. Cuma modal inti cerita kejar-kejaran dan tidak banyak dialog justru merupakan "bahasa" yang mudah dimengerti orang di dunia. Tidak peduli dari bangsa mana, pasti orang akan mengerti jalan ceritanya. Bahkan ditonton tanpa suara pun masih tetap asik menurut saya. Saya sering nonton serial ini tanpa suara karena jam tayangnya sekarang sering di saat tidur siang, takut ganggu ibu yang sedang tidur. Mehehehe... Alhasil saya dan bapak saya harus tertawa tanpa suara. (,--)/||