May 31, 2013

Banjir Rindu

Sumber gambar dari sini.
Akan kukumpulkan semua rasa ini hingga hatiku sesak dan nafasku sesak. Biar saja, semua ini juga karenamu. Biar saja, biar kubalas semua ini kepadamu saat kita bertemu nanti. Biar saja, akan kubanjiri kau dengan semua rasa rindu ini hingga kau sesak nafas. Toh aku tahu kau juga akan membanjiriku dengan rasa yang sama. Aku tahu kau juga memendam rasa rindu yang sama hingga nafasmu sesak.
Kau tahu, kelak kita akan bertemu kembali. Kau akan memerlukan tempat yang sangat luas untuk menyimpan semua rasa itu. Aku akan jatuh dalam pelukmu saat kita bertemu kembali, aku janji. Semua rasa rindu akan tumpah, rasa rindu dariku dan darimu menjadi satu, membanjiri kita berdua. Kita berdua akan berbaring dalam lautan rindu ini hingga terlelap.

May 24, 2013

Rindu Mata Itu

Sumber gambar dari sini.
Aku merindukan sepasang mata itu. Mata hitam yang selalu jenaka dan penuh lelucon kehidupan. Mata yang selalu berkata, "Kenapa harus selalu menjadi serius? Hidup akan lebih mudah ketika kau tertawa." Mata yang selalu tertawa, lepas, dan bebas. Mata yang selalu menari riang ketika bercerita. Mata yang selalu penuh dengan cerita baru setiap harinya. Mata yang selalu bersemangat seakan-akan terdapat api abadi di dalamnya.
Aku ingin melihat sepasang mata hitam itu lagi. Kini yang aku lihat hanyalah kabut yang menutupinya. Aku tak tahu apa arti kabut itu. Apakah itu adalah gumpalan air mata yang tertahan di dalamnya? Apakah kabut itu menutupi sesuatu yang ada di dalamnya? Sesuatu yang tidak ingin kau bagi dengan dunia?
Aku rindu ketika kita saling menatap satu sama lain dengan mata telanjang. Jujur. Tanpa ada kacamata, tanpa ada kabut. Bolehkah aku sekarang mengatakan bahwa aku merindukanmu?

May 17, 2013

Rumah Tenda

Di suatu desa yang damai, terdapatlah seorang gadis kecil yang tinggal bahagia dengan keluarganya. Dia gemar mengamati apa saja yang terjadi di desanya itu. Tak jauh dari rumahnya, tinggallah sebuah keluarga yang menurut pandangannya bahagia. Dia paling suka mengamati aktivitas salah seorang pria dari anggota keluarga itu.
Suatu hari, gadis kecil itu melihat pria itu pergi ke hutan dengan membawa banyak peralatan pada sore hari. Gadis kecil itu penasaran dan mengikutinya dari belakang.
"Hei, Tuan! Anda mau ke mana?"
"Eh? Kau mengikutiku?"
"Iya, aku penasaran dengan apa yang akan Anda lakukan."
Pria itu berhenti sebentar agar si gadis kecil itu bisa menyamakan langkahnya. Ketika gadis itu telah melangkah sejajar dengannya, dia melangkah pelan-pelan mengikuti irama si gadis kecil.
"Aku ingin membuat tenda di hutan ini. Kau mau menemaniku sampai sebelum gelap? Aku antar kau pulang nanti."
"Baiklah. Kenapa Anda membuat tenda di sini? Anda punya rumah, kan?"
"Emmm... Ya, aku punya rumah, aku tinggal di sana, aku makan di sana, dan aku tidur di sana." Ada nada ragu dan mengambang dalam kalimat yang diucapkannya.
"Lalu kenapa Anda membuat tenda di hutan?"
"Rumah adalah di mana hatimu berada, begitulah kata orang-orang, bukan?"
"Iya," jawab si gadis kecil mantap.
Mereka telah sampai di tempat yang dituju oleh si pria itu. Pria itu mulai membongkar barang-barangnya. Sambil membuat tenda, pria itu meneruskan obrolannya. Si gadis kecil itu duduk di dekatnya, memperhatikan pria itu bekerja dan mendengarkan apa yang diucapkan si pria.
"Aku tidak merasakan hatiku di sana. Aku tidak merasakan hatiku berada di rumah itu," lanjut pria itu.
"Tapi, aku lihat Anda baik-baik saja. Maksudku, Anda mempunyai keluarga yang menyenangkan, kalian rukun, tidak terdengar teriakan pertengkaran. Setidaknya itu yang aku lihat dan aku dengar."
"Entahlah. Ada sesuatu, perasaan, yang tidak dapat kujelaskan. Aku merasa tidak berada di sana."
Ya, gadis itu juga merasakan kekosongan dalam suara pria itu.
"Jadi, untuk itu Anda membuat tenda di sini? Untuk mencari 'rumah'?"
"Ya," jawab pria itu sambil menyeka keringat dan tersenyum.
"Keluarga Anda ada yang tahu? Anda akan seterusnya tinggal di sini?"
"Hahaha... Kau ini cerewet sekali, ya," pria itu tertawa ramah dan tidak merasa terganggu sama sekali dengan pertanyaan-pertanyaan itu. "Tak apa, aku senang mendapatkan teman mengobrol sepertimu, gadis kecil. Keluargaku tidak tahu tentang ini. Aku pergi diam-diam ke sini. Mungkin aku akan ke sini pada malam hari, ketika semua terlelap, atau ketika aku ingin keluar dari sana. Atau ketika aku merasa sepi. Entahlah."
"Boleh aku menemanimu, Tuan? Well, jika Anda menginginkannya."
"Hahaha... Tentu saja boleh, aku akan menemuimu ketika aku butuh teman mengobrol di sini. Tapi, tidak untuk malam hari. Hutan terlalu berbahaya untukmu di malam hari."

Sumber gambar dari sini.
Gadis kecil itu sangat ingin membuat si pria itu merasa berada di 'rumah' saat bersamanya. Si gadis kecil tidak pernah tahu apakah dia berhasil membuatnya nyaman atau tidak. Tapi, selama si gadis itu menemaninya di hutan, pria itu selalu banyak bercerita, tertawa, tersenyum, bahkan bernyanyi dengan ceria. Entah itu karena memang watak si pria yang ramah atau memang si pria itu nyaman ketika bersamanya.

May 3, 2013

Berdiam Diri

Sumber gambar dari sini.
"Aku perhatikan kau beberapa lama ini. Kenapa kau hanya berdiam diri saja? Tak sedikit pun suara yang kau keluarkan."
"Aku pernah berbisik, berbicara, bahkan berteriak. Tapi dunia tak mau mendengarku. Biarlah aku berdiam diri dan aku yang mendengarkan dunia saja."